Oleh: Suyito Basuki *)
KAB. JEPARA, wartaintegritas.com – Soal aksi tipu-tipu atau tindakan kepalsuan, sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini seolah sudah menjadi budaya massa dalam masyarakat. Aksi ini seolah diterima asal membawa kebaikan. Konon orang tipu-tipu ini, khususnya bagi orang Jawa, punya akar yang kuat dalam kebudayaan. Dalam cerita Baratayuda dikisahkan bahwa seorang raja Amarta, Yudistira, yang terkenal jujur pun suatu ketika melakukan aksi tipu-tipu. Syahdan dalam peperangan Baratayuda, kesaktian Begawan Durna sebagai senopati Astina, tiada tandingan dalam kancah peperangan. Kresna kemudian punya inisiatif supaya Durna lemah semangat juangnya. Dibujuknyalah supaya Yudistira mau “sedikit” saja berbohong.
Terjadilah kemudian sebuah peristiwa tipu-tipu itu. gegap gempita prajurit Amarta berteriak-teriak bahwa Aswatama, putra terkasih Durna tewas. Padahal yang mati hanyalah seekor gajah yang kebetulan bernama Hestitama. Durna terkejut bukan kepalang, serta merta loyolah semangat perangnya. Tapi ia belum percaya begitu saja kalau belum tahu kejadian yang sesungguhnya. Dia kemudian mendatangi seseorang yang dapat menjadi referensi yang sangat kuat untuk sebuah kejujuran, Yudistiralah orangnya. Yudistira atau Puntadewa, raja Amarta ini dikenal punya darah yang putih, artinya ia adalah pribadi yang dikenal karena kejujurannya. Yudistira ketika ditanya Durna memang menjawab yang mati itu Hestitama. Tetapi suku kata “hesti” ia ucapkan sangat lemah, kemudian suku kata “tama” diucapkannya keras. Alhasil Durna yang sudah tua seolah mendengar bahwa yang diucapkan ratu yang terkenal jujur itu “aswatama”. Kontan saja Durna stres yang menyebabkannya terlena sehingga tidak sadar ketika Destrajumpena melibas kepalanya!

Sering orang mengatakan dusta Yudistira itu “dora sembada”. “Dora sembada” dari kata bahasa Jawa: “dora” adalah berdusta atau kasarnya tipu-tipu atau tindakan palsu, sedang “sembada” adalah sesuai atau menghasilkan hal yang baik. Hal itu menunjukkan sebuah tindakan menipu yang memiliki tujuan akhir baik. Ketika masih mengajar di perguruan tinggi maupun di sekolah menengah atas, sering saya mendengar mahasiswa maupun murid yang ketahuan mencontek alasannya adalah “membantu” orang tua, demi sebuah “tujuan yang baik”. Itu barangkali salah satu contoh perbuatan “dora sembada” itu.
Tetapi inilah cerita yang terjadi kemudian. Seorang driver tetangga saya, yang sering keluar kota untuk pengiriman mebel dan lain-lain, suatu ketika membeli seekor burung perkutut putih di sebuah kota. Perkutut putih selain unik, konon juga dapat mendatangkan rejeki bagi pemiliknya. Dengan demikian, tentu saja harganya di atas rata-rata harga burung perkutut biasa. Setelah beberapa saat berselang, burung tersebut berganti bulu, berubahlah dari warnanya yang putih menjadi warna kehitam-hitaman. Ternyata warna putih tersebut hasil semprotan cat pilok belaka!
*) Penulis menyelesaikan S1 FKIP UNS Prodi Bahasa & Sastra Indonesia; Sekolah Pedhalangan Habirandha Kraton Yogyakarta; S2 Master of Divinity & Magister Theologi di STII Yogyakarta
















