Diskusi Ilmiah: Etika dan Moral dalam Kehidupan Bersama

KARANGANYAR, wartaintegritas.com – Dalam upaya menumbuhkan pemahaman mendalam mengenai nilai-nilai moral dan etika dalam kehidupan komunitas teologis, Kelas Ekstrakurikuler bersama Biro Penelitian BEM STT (Sekolah Tinggi Teologi) Tawangmangu menyelenggarakan Diskusi Ilmiah bertema “Etika dan Moral dalam Kehidupan Berasrama” pada Kamis, 6 November 2025. Kegiatan ini diikuti sekitar 120 peserta, terdiri atas mahasiswa dan dosen STT Tawangmangu.

Acara menghadirkan Pdt. Andi Wijaya, M.A., M.Pd., Konselor, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan perbedaan antara moral – yang berakar pada prinsip pribadi, budaya, dan keyakinan tentang benar dan salah – yang etika, yakni aturan dan Tindakan, yang menentukan perilaku dapat diterima dalam komunitas tertentu.

“Panduan kita adalah Alkitab sebagai sumber moral dan etis. Etika Kristen adalah etika alkitabiah, bagian dari gaya hidup penyembahan yang mengatur perilaku umat Kristen di luar gereja, termasuk di asrama dan lingkungan sosial,” ujar Pdt. Andi dalam sesi penyampaian materi.

Lebih lanjut, Pdt. Andi menekankan bahwa hidup Kristen bertujuan untuk memuliakan Kristus melalui perkataan dan perbuatan, bukan sekadar menaati aturan. Ia juga menguraikan akar permasalahan moral dan etika dalam berasrama, di antaranya:

  1. Tidak adanya konsistensi dalam menghidupi prinsip kebenaran Allah yang seharusnya menjadi acuan dasar moral dan etika.
  2. Adanya orang Kristen yang sehat rohani tapi tidak sehat emosi.
  3. Mencintai Tuhan tapi gagal mengasihi sesama yang berakar dari kegagalan mengasihi diri sendiri.
  4. Kurangnya problem solving skills.
  5. Adanya luka-luka yang belum sembuh mengakibatkan diri yang belum selesai.
  6. Mindset menetap vs. mindset bertumbuh.
  7. Hilangnya figur teladan yang inspiratif.
  8. Menghadapi burnout: musuh dalam kesenyapan.
  9. Adanya pola bertindak tanpa berpikir dan berpikir tanpa menguji

Dalam sesi diskusi, peserta diajak merefleksikan pertanyaan, “Apa yang dapat saya lakukan dalam iman saya sebagai orang percaya?” dan “Di mana posisi saya lima hingga sepuluh tahun ke depan?” Pertanyaan ini menjadi dorongan bagi mahasiswa untuk mengaitkan iman dengan praktik hidup sehari-hari di komunitas asrama.

Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti sesi refleksi dan tanya-jawab yang berlangsung hangat. Beberapa mahasiswa mengungkapkan pengalaman nyata menghadapi dilema moral di kehidupan asrama dan belajar menyeimbangkan disiplin dengan kasih.

Sebagai penutup, Pdt. Andi membagikan lima langkah praktis dalam membangun kehidupan etis di asrama:

  1. Mengembangkan kesadaran diri dan kesadaran akan kehadiran Tuhan.
  2. Menumbuhkan kepatuhan yang lahir dari rasa hormat kepada Allah, bukan karena takut pada manusia.
  3. Membangun support system yang sehat.
  4. Mengidentifikasi dan mengelola kelemahan tanpa kehilangan fokus pada kekuatan.
  5. Berproses bersama Tuhan dan menghindari keinginan instan.

Ketua Biro Penelitian BEM STT Tawangmangu dalam sambutannya menyampaikan bahwa diskusi ini menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk memahami dimensi etika dan moral bukan hanya secara teoritis, tetapi juga dalam praktik kehidupan berasrama sehari-hari.

Para peserta menyambut positif kegiatan ini dan berharap diskusi ilmiah serupa dapat diadakan secara berkala dengan tema-tema kontekstual lainnya yang memperkaya kehidupan rohani dan karakter mahasiswa teologi.

(Purwoto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar