KLATEN – wartaintegritas.com — Di tengah hiruk-pikuk peringatan Hari Buruh Internasional, sebuah keheningan yang magis menyelimuti Kapel Santo Yusup Pekerja, Jebugan, Klaten. Jumat (1/5/2026), bukan sekadar perayaan tahunan bagi tiga ratus lebih umat Katolik di sana; ini adalah momen “pulang” ke dalam dekapan iman yang menenangkan.
Menepis Kegelisahan Duniawi
Ketika dunia luar sibuk dengan tuntutan ekonomi dan hiruk-pikuk pekerjaan, Romo Yosep Kristanto, Pr., berdiri di atas altar membawa pesan yang kontradiktif namun menyejukkan. Dalam Homilinya yang menyentuh sanubari, ia membedah ketakutan terbesar manusia: ketidakpastian.
”Jangan gelisah,” ucapnya lembut namun tegas. Merujuk pada janji Kristus dalam Injil Yohanes, Romo Yosep mengingatkan bahwa kerja keras manusia di dunia hanyalah mampir minum. Tujuan akhirnya adalah sebuah tempat yang sudah dipersiapkan secara personal oleh Sang Pencipta.
Pesan tersebut menjadi oase bagi umat yang sehari-hari bergulat dengan beban hidup, memberikan perspektif bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan kepulangan yang dinanti.

Harmoni Langit di Jebugan
Ada yang berbeda dalam liturgi kali ini. Getaran suara dari Orang Muda Katolik (OMK) yang dipandu oleh Saudari Palma seolah menjadi jembatan antara doa dan realitas. Lagu-lagu yang dibawakan bukan sekadar melodi, melainkan napas spiritualitas kaum muda yang masih menyala. Di sini, religiositas tidak tampil kaku, melainkan hidup melalui kreativitas dan pengabdian.
Santo Yusup: Teladan Sunyi dalam Kerja
Perayaan Pesta Nama ini menjadi refleksi mendalam tentang sosok Santo Yusup. Di tengah budaya pamer dan pengakuan, umat Jebugan diajak menengok kembali jati diri Yusup yang bekerja dalam diam, rendah hati, namun menjadi pilar penting dalam sejarah keselamatan.
Bagi warga Jebugan, spiritualitas kerja kini memiliki makna baru:
- Bekerja adalah Doa: Setiap keringat yang menetes dalam profesi apa pun adalah bagian dari karya penciptaan.
- Keteguhan Hati: Menghadapi tantangan zaman dengan resiliensi (daya tahan) yang bersumber dari iman, bukan sekadar logika manusia.
Perjamuan Kasih yang Melintasi Batas
Usai menyantap “Roti Hidup” di dalam kapel, umat melanjutkan kebersamaan di Gedung Badminton Jebugan. Di sinilah religi mewujud dalam aksi nyata: solidaritas. Tidak ada lagi sekat antara enam lingkungan yang berbeda. Makan bersama, tawa anak-anak saat menerima doorprize, hingga tegur sapa hangat antar-generasi menunjukkan bahwa gereja bukanlah gedung, melainkan komunitas yang saling menguatkan.
Perayaan 1 Mei di Jebugan tahun ini meninggalkan satu catatan penting bagi siapa pun yang hadir: Bahwa di tengah dunia yang sering membuat kita merasa asing dan lelah, selalu ada “Rumah” yang terbuka, dan jalan menuju ke sana telah dibentangkan oleh iman.
(Benyamin Hadinagara)










