Oleh: Suyito Basuki *)
Bagas dan Fitri masih berdiri di Pantai Bandengan. Fitri terbawa oleh kesedihan cerita Bagas.
Fitri bertanya,”Masih bertemu dengan Handa sampai saat ini Mas…?”
Bagas menggeleng,”Dia sudah menikah dengan seorang penerbang…Saya pikir hidupnya sangat baik. Aku senang mendengarnya…”
Fitri masih juga bertanya,”Nggak mikir untuk mencari ganti?”
Bagas menjawab,”Ada keengganan yang dahsyat untuk mendekati wanita sesudah itu.”
“Sampai sekarang?” Fitri masih mengejar dengan pertanyaannya.
Agak malu Bagas menjawab,”Entahlah, kayaknya sekarang ingin dicintai dan mencintai, cuma…”
Fitri tidak sabar ajukan pertanyaan,”Cuma apa?”
Bagas agak ragu,”Cuma dua hal. Soal latar belakang orang tuaku dan kemiskinanku. Apakah ada gadis yang mau menerima keadaanku ini?”
Fitri heran bertanya,”Siapa sih yang melihat mas Bagas miskin?”
Bagas pandangannya menerawang ke langit,”Coba dengar sepenggal kisah kecilku ini…”
Di sebuah sekolah SMP, guru penyuluh bertanya kepada murid-murid. Murid maju berkelompok
“Monica, kamu besok ingin melanjutkan ke mana?” Guru penyuluh bertanya.
Monica menjawab,”Jadi guru pak, seperti Bapak saya… Makanya kata bapak, setelah ini saya akan meneruskan ke SMA, kemudian ke Fakultas Keguruan…”
Guru memuji,”Bagus, sekarang Joni, kamu kelak punya cita-cita apa?”
Joni menjawab,”Saya mau jadi sarjana teknik, kayak pakdhe saya, biar hidup berkecukupan pak…”
Guru kembali memuji,”Yunik, kamu mau jadi apa? Apa cita-citamu?”
Yunik Ermawati menjawab,”Saya ingin jadi perawat rumah sakit, seperti mama saya Pak…”
Guru kembali memuji, lalu giliran bertanya kepada Bagas,”Nah kamu Bagas, kamu punya cita-cita apa? Setelah lulus dari SMP ini kamu mau melanjutkan ke mana?”
Bagas menggeleng,”Saya, be…belum tahu Pak…”
Guru mengamati Bagas,”Sebaiknya kamu pikirkan ya, supaya kamu rajin belajar, mempersiapkan masa depan sejak sekarang. Ingat tinggal beberapa bulan lagi kamu sudah tamat dari SMP ini…”
Bagas dengan terbata menjawab,”I…Iya…Pak…”
Guru penyuluh kemudian berkata,”Ya sudah semuanya keluar. Sekarang panggil giliran siswa berikutnya: Nawang, Bambang, Suwono, Erna…”
Bagas dan teman-temannya keluar. Nama siswa yang dipanggil segera masuk. Sesampai di luar kelas, seorang pegawai administrasi menemui Bagas dengan tergopoh-gopoh menemui Bagas,”Eh, Bagas, kamu dipanggil Bapak kepala sekolah…Sudah 3 kali ini lho kamu dipanggil, kok kamu tidak segera menghadap?”
Bagas kaget dan menjawab,”Eh, iya bu, saya ke sana sekarang…”
Bapak kepala sekolah sedang menulis sesuatu di kertas di atas meja kerjanya. Sesekali membetulkan kaca matanya yang melorot. Di meja, menghadap ke depan tertulis papan nama yang diletakkan di meja: Kepala Sekolah: BASUKI, BA.
Bagas agak takut masuk ke kantor kepala sekolah itu,”Permisi Pak…”
Bagas mengetuk dengan sedikit keraguan
Kepala Sekolah menjawab lantang,”Bagas ya…? Masuk!” Bagas masuk dan duduk di kursi yang menghadap Kepala Sekolah.
Kepala Sekolah menatap tajam Bagas,”Hei, sudah tiga kali ini dipanggil kok tidak menghadap? Ada apa? Meremehkan panggilan Kepala Sekolah ya…
Bagas merasa bersalah,”Tidak, maaf, Pak…”
Kepala Sekolah bertanya dengan suara keras,”Tahu ya, mengapa saya panggil? Sudah berapa bulan kamu tidak membayar uang sekolah?”
Bagas tanpa berani memandang Kelapa Sekolah menjawab,”Lima bulan Pak…”
Kepala Sekolah bertanya lagi,”Kapan kamu akan melunasinya? Ingat kalau awal bulan depan kamu belum melunasinya, kamu tidak boleh ikut ujian akhir sekolah, mengerti?”
Bagas masih tertunduk,”Saya mengerti Pak…”
Kepala Sekolah heran bertanya,”Kamu ini kenapa? Sudah jarang masuk kelas, membayar uang sekolah selalu terlambat…Niat sekolah tidak? Atau aku panggil orang tuamu kemari?”
Bagas hampir menangis,”Jangan Pak…Maafkan saya Pak…”
Kepala Sekolah suaranya merendah,”Kamu sebenarnya ada masalah apa?”
Bagas diam saja, ingin menangis, tidak membuka mulut, kepala terus tertunduk.
Kepala Sekolah mengakhiri perbincangan,”Ya, sudah sana, lanjutkan pelajaranmu…”
Bagas tidak jadi menangis, hatinya lega,”Iya Pak, permisi…” Bagas keluar ruangan. Mata Kepala Sekolah masih mengekor sampai Bagas menghilang dari ruang. Kepala sekolah menggeleng-geleng, meneruskan pekerjaannya.
(Bersambung)
*) Penulis tinggal di Ambarawa
Gambar ilustrasi dari Radar Madiun










