Cerbung: Mimpi Pekerja Roti (2)

Peristiwa287 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki *)

Dulunya Ong Tek Khian sebelum memegang perusahaan dan toko roti, katanya bekerja di Jakarta.  Ia ikut perusahaan transportasi Omnya.  Pergaulannya banyak dengan para sopir dan juga pengusaha-pengusaha transportasi.  Namun yang Bondan dengar-dengar, keuangan Ong Tek Khian sering mawut.  Uang memang banyak ia terima, tetapi seringkali untuk kebutuhan hidup setiap bulannya masih disuport oleh orang tuanya dari Bandung.  Hingga suatu ketika papa Ong Tek Khian jatuh sakit, karena Ong Tek Khian adalah satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga, maka diberilah wewenang meneruskan perusahaan dan toko roti yang terus berkibar benderanya.  Ong Tek Khian kemudian dipanggil pulang.  Kepulangannya ke Bandung membuat omnya lega.  Sebenarnya ia memang sudah merencanakan memberhentikan keponakannya ini dari pekerjaannya, tetapi ia masih tergoda untuk terus memberikan kesempatan demi kesempatan untuk memperbaiki diri.  Bukankah keburukan mesti ada titik akhirnya?  Itu semboyan Om Ong Tek Khian dalam usaha menolong keponakannya.

Memang benar, setelah Ong Tek Khian meneruskan usaha papanya yang telah berpulang, awal-awal tahun pekerjaannya, ia tidak lagi bersentuhan dengan perjudian.  Istrinya dan anak-anaknya yang sudah menginjak usia remaja menjadi lega.  Mereka bahu membahu memikirkan perkembangan perusahaan dan toko roti mereka.  Mereka kemudian membuka cabang di Tasikmalaya, Sumedang, dan Yogyakarta.  Mengetahui cabang Yogyakarta dibuka, Bondan iseng-iseng mengajukan pindah supaya lebih dekat dengan keluarga yang selama ini lebih sering ia tinggalkan.  Ong Tek Khian menyetujui, tetapi itu akan dipikirkan untuk tahun depan.  Tentu saja, istri dan anak-anak Bondan yang juga sudah menginjak remaja senang bukan main dan berharap-harap cemas, Bondan dapat mutasi di kota mereka.

Bondan sudah menanamkan rencana-rencana bersama Tari istrinya, ketika ia pulang kampung suatu ketika.  Jika benar dia bisa pindah ke cabang Yogyakarta, itu berarti mereka akan banyak memiliki waktu, tidak saja waktu berkumpul dengan keluarga, tetapi juga waktu luang.  Sehingga Bondan punya rencana akan mencoba membuat roti sendiri di rumah di malam hari.  Esok harinya, istrinya dengan dibantu anak-anaknya akan memasarkan roti itu ke perumahan atau toko-toko sekitar mereka.  Kalau ada sanak famili yang mempunyai hajat, tidak usah membeli roti ke mana-mana, dia akan borong sendiri pembuatannya.  Selain itu lebih murah, tetapi juga akan memberi penghasilan tambahan bagi keluarga dan tetangga-tetangganya yang pasti akan dilibatkannya dalam pembuatan roti.  Jika saja karena jenuh atau usia sudah dianggap tua sehingga tidak mampu bekerja lagi di perusahaan dan toko Mandiri Bakery, maka Bondan akan mengundurkan diri.  Justru pengunduran dirinya itu akan menjadi saat-saat dimana ia sangat maksimal mencurahkan waktunya untuk mengembangkan usaha pembuatan roti di rumahnya.  Pesangonnya yang pasti akan bernilai lumayan, akan ia pakai untuk membuka toko roti dan membeli alat-alat yang lebih modern, jika mungkin seperti yang dimiliki oleh Ong Tek Khian. 

(Bersambung)

*) Penulis tinggal di Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *