KAB. BOGOR, wartaintegritas.com – Sekolah Rakyat adalah program pendidikan yang diinisiasi oleh pemerintah Indonesia untuk memberikan akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Program ini dirancang untuk membantu mengurangi angka putus sekolah serta meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Sekolah Rakyat didirikan sebagai upaya pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Program ini ditujukan untuk anak-anak yang berasal dari keluarga yang termasuk dalam desil 1 dan 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), yaitu kelompok dengan kondisi ekonomi paling rentan. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa siswa yang diterima di Sekolah Rakyat wajib menuntaskan pendidikan mereka hingga lulus.
Program ini bertujuan untuk memberikan akses pendidikan gratis dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin. Selain itu, Sekolah Rakyat menyediakan lingkungan belajar yang kondusif dengan fasilitas yang memadai. Anak-anak yang bersekolah di program ini juga mendapatkan keterampilan akademik dan non-akademik guna meningkatkan peluang kerja di masa depan. Selain aspek akademik, program ini juga menanamkan karakter kepemimpinan, nasionalisme, serta kemandirian bagi para siswa.
Program Sekolah Rakyat adalah sebuah inisiatif pendidikan yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto dengan tujuan utama memutus transmisi kemiskinan antargenerasi melalui penyediaan pendidikan berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan. Sekolah Rakyat dirancang sebagai sekolah berasrama (boarding school) yang menyediakan fasilitas lengkap, mulai dari asrama, laboratorium, hingga perangkat pembelajaran berbasis teknologi, seperti tablet untuk mendukung proses belajar-mengajar.
Tugas Mulia dan Berat

Seorang pendidik Sekolah Rakyat, Dina Lestari, dari Gunung Kidul Yogyakarta mengatakan bahwa menjadi guru sekolah rakyat adalah pekerjaan mulia, tetapi sekaligus berat.
“Background studi saya bukan dari kependidikan. Titik baliknya adalah saya mengikuti seleksi program PPG Prajabatan angkatan pertama tahun 2022. Satu tahun PPG memberi saya banyak pengalaman dan sudut pandang baru dalam mengajar. Lulus th 2023, saya mulai mengajar di salah satu SMA negeri di pelosok Gunungkidul, sebagai guru honorer. Hingga tahun 2025 ada seleksi PPPK juga guru Sekolah Rakyat.,” demikian Dina yang mengajar di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 12 Bogor, sebuah sekolah rakyat yang berada di dalam Sentra Terpadu Galih Psayaan yg beralamat di Jl. H. Miing no 71, Ciseeng, Kab. Bogor. Menurut Dina, SRMA 12 Bogor dengan Kepala Sekolah Iksan Cahyana ini tempatnya cukup asri, dan tidak terlalu padat penduduk.
“Sekolah baru dibawah wewenang Kemensos lebih berfokus pada pendidikan bagi anak dari keluarga miskin-miskin ekstrim. Ini adalah tugas yg sangat mulia sekaligus tantangan yang berat,” jelas Dina. Kemudian ia uraikan tantangan berat yang ia alami adalah berkaitan dengan kekhawatiran orang tuanya.
“Seperti orang tua pada umumnya, orang tua saya sangat khawatir ketika anak perempuan satu satunya harus tinggal jauh merantau di luar kota. Ibu terutama khawatir mulai dari tempat tinggal, keamanan lingkungan dan sebaginya. Untungnya SR menyediakan tempat tinggal sementara berupa kamar asrama dengan fasilitas cukup baik, lingkungannya juga cukup aman dan nyaman dijaga oleh petugas keamanan 24 jam. Sehingga kekhawatiran ibu di rumah bisa berkurang,” demikian ujar Dina mendeskripsikan tantangan berat yang saat ini dihadapinya.
Trial and Error

Dina yang menyelesaikan kuliah kesarjanaannya di bidang ilmu Fisika di UNNES Semarang ini mengatakan bahwa menjadi guru tidak terbayang olehnya sebelum ini.
“Menjadi guru dan mengajar di Bogor tidak terbayang olehku sebelumnya. Tantangan baru yang saya rasakan adalah ini sekolah asrama, sesama penghuni asrama maka akan ketemu dengan murid, pengawasan dan pendampingan hampir 24 jam, tentu saja guru tidak sendiri, ada tenaga pendidik, wali asrama, dan wali asuh yang turut membantu,” ujar Dina.
Dina mengaku dalam pengajaran di SR, belum ada program yang baku. “Karena sekolah yang benar-benar mulai dari nol, SR ini belum ada program yang baku, semua masih trial and error. Selama dua bulan ini kami menerapkan kurikulum penyesuaian, yang diharapkan tidak hanya siswa tapi juga guru dan tendik bisa melakukan penyesuaian semua. Mulai dari program asrama, kapan waktu makan, jam malam, bangun tidur, hingga kegiatan pengisi di malam hari. Kurikulum yang dipakai di sekolah juga tidak bisa menerapkan 100% sama dengan yang ada di sekolah reguler, sehingga perlu ada modifikasi,” urai Dina menjelaskan.
Banyak yang Menangis

Ada peristiwa yang membuat Dina tercengang saat acara sharing, Dina melihat banyak anak yang menangis. “Saat saya mendampingi pada sharing season, banyak anak yg menangis, mereka menangis bukan karena tidak betah di asrama, tapi teringat keluarga di rumah, anak anak di asrama makan 3× sehari lauk pauk sayur buah susu+snack tidak pernah telat, tapi keluarga yang di rumah belum tentu orang tua dan saudaranya bisa makan seperti yang anak-anak asrama makan,” kisah Dina.
“Almost of them anak-anak SR ini pengen kerja di pabrik Cikarang atau Karawang, ngga ada yang kepengin melanjutkan kuliah,” ujar Dina. Oleh karena itulah Dina banyak mendorong anak-anak SR untuk bercita-cita melanjutkan kuliah usai lulus dari SR nantinya. Dina menceritakan kepada mereka bahwa murid-murid yang pernah ia ajar di sebuah SMA di Gunung Kidul Yogyakarta sebelumnya banyak yang masuk UGM. Dina berharap semoga cetakan lulusan pertama Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 12 Bogor ini kelak ada yang bisa lolos kuliah di UGM, UI, ITB atau PTN lainnya.
Oleh: Suyito Basuki










