Cerbung: Lelaki Pengayun Kapak (2)

Fiksi168 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki*)

“Kemarin ketika aku menjenguknya, tiba-tiba dia menyongsongku sambil membawa kapaknya, sambil berkata ‘Kau mau cari mati ya’…” Priyo ikut berbicara sambil menghela napasnya.  Pria dengan kulit legam dengan kulit muka bercak-bercak yang pernah kerja sebagai tukang ukir di Jakarta itu, sekarang seringkali mencari ikan di laut.  Berhari-hari tidur di bagang di tengah laut.  Kadang-kadang juga jika ada orang membutuhkan jasanya, dia akan menyopir truk untuk mengangkut kayu jati atau meubel-meubel ke luar kota. Angin laut dan udara hutan tidak saja membuat mukanya keras, tetapi juga ucapan dan tindakannya kadang bagai batu.

“Bocah edan itu,” demikian Priyo menceritakan keponakannya itu,”Tiba-tiba saja mengayunkan kapaknya ke arahku.  Untung aku masih punya kesadaran.  Langsung saja tangan kiriku menangkap tangan bocah pengayun kapak itu.  Sementara secara reflek, tangan kananku memegang lehernya dan memelintirnya dari belakang.  Kaki kirinya kutendang saja dengan kaki kananku.  Langsung dia terjerembab, mengaduh-aduh dan menangis.  Sementara kapak tajam itu, terlempar kira-kira sejengkal dari tubuhnya,” cerita Priyo sembari menghisap rokok putihnya.  Asap rokok keluar dari mulutnya, menggulung di udara, menggumpal, seolah menunjukkan hati Priyo yang penuh kebanggaan.

“Dia tidak segera bangkit dan menyerang lagi?” Aku setengah penasaran bertanya.

“Dia tidak bisa lagi bangun, karena tubuhnya lemas,” Mardi adik Priyo yang memiliki perawakan kecil ikut menimpali.  “Tiga hari sebelumnya dia tidak mau makan, hanya minum.  Tentu saja itu mempengaruhi kekuatan fisiknya.  Dia hanya merintih, matanya memelas, seolah kesadarannya pulih,” lanjut lelaki kecil yang lebih memilih bekerja menjadi buruh tani di desa kami.

Perihal Herdi tidak makan tiga hari tiga malam itu, menurut Hartono dan beberapa orang desa, memang Herdi sering melakukannya.  Konon menurut petuah seorang guru, laku ini dapat bermanfaat untuk menarik hati para wanita dan dapat lancar dalam bekerja.  Jika lancar kerja, maka kekayaan akan segera dengan mudah didapatkan.

Sebenarnya tanpa melakukan ngelmu apa-apa, Herdi dengan kondisi fisiknya yang menurutku, ia diberkahi dengan ketampanan yang lumayan, bodinya juga atletis.  Rambut gondrongnya yang ikal, jika diikat dengan tali di belakang, menambah pesona penampilannya.  Sangat mudah baginya untuk menarik hati para wanita.  Bukankah dia tidak membutuhkan waktu lama untuk memikat hati seorang wanita Purwodadi yang kebetulan bekerja di perusahaan meubel tempatnya bekerja saat itu?  Hanya sayang sekali, Herdi yang kala itu suka mabuk dan berjudi sangat menjengkelkan hati wanita molek itu, sehingga perkawinannya berujung pada perceraian.

Tetapi mengherankan.  Belum juga setahun, Herdi sudah menggandeng seorang wanita tetangga desa.  Janda dengan seorang anak itu sebenarnya tidaklah begitu cantik.  Tubuhnya kecil, hitam, di sekujur kakinya ada luka-luka yang agak membusuk.  Mengapa Herdi mau menikahi wanita yang ditinggal suaminya entah pergi ke mana itu?  Menurut beberapa para tukang di tempat ia bekerja, Herdi bersedia menikahi wanita yang suka berdandan modis itu, karena wanita yang suka mengucir rambutnya itu  menjanjikan akan segera membelikan sebuah sepeda motor kepada Herdi seusai pernikahan.  Namun sudah setengah tahun menikah, janji itu tidak dipenuhi.  Herdi yang dulu begitu bangga dengan impiannya akan segera naik sepeda motor baru, selanjutnya menjadi Herdi yang pemurung, sering bicara sendiri, dan itulah awal petaka hingga dia menjadi seperti sekarang ini.  Tidak tahan di rumah istrinya, dia kemudian pergi tanpa pamit.  Konon kepergiannya hingga berbulan-bulan itu dia lakukan lebih banyak berjalan kaki.  Dia pergi ke Purwodadi ke tempat bekas istrinya mula-mula.  Setelah itu ke Jakarta, kemudian ke Sumatra, balik lagi ke Jawa, kemudian lama tinggal di perkebunan karet di kota kami, hingga seorang tetangga menemukannya ketika mencari rumput untuk pakan ternaknya.

(Bersambung)

*) Pernah dimuat di Mingguan Suara Merdeka Semarang dalam bentuk Cerpen

*) Penulis tinggal di Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *