Oleh: Erna Widyaningsih*)
11. Bagai Hidup Tanpa Arti
Hari demi hari kulalui sekarang tanpamu. Aku tidak ada gairah lagi untuk hidup. Rasanya jengkel, benci dan menyalahkan pada yang buat hidup ini. Mengapa aku harus begini, mengalami penderitaan mengalir seperti tak pernah berhenti. Kenapa cobaan itu datang bertubi – tubi padaku. Kenapa tidak orang lain saja, kenapa harus aku.
Apa salahku, apa dosaku, sehingga ini semua terjadi padaku. Mengapa aku seperti tak punya hak untuk hidup bahagia? Hatiku hampa.
Aku murung. Sendirian. Rasanya tidak ada gairah lagi untuk hidup. Aku lebih banyak termenung menahan tangis. Sedih dan dukaku terlalu dalam. Air mataku meleleh, bila ingat saat bersamamu, dan sekarang aku harus sendiri, Mas Hans.
————————————-
Pelan pelan aku siuman. Seperti tersadar dari mimpi. Suatu ketika nalar sehatku mengatakan bahwa aku tidak boleh seperti ini terus menerus. Aku harus bisa bangkit. Aku masih punya anak – anak yang butuh bimbinganku, butuh kasih sayangku, butuh untuk hidup dan kuhidupi. Ya, Aku harus menghidupi anak-anakku. Bagaimana caranya? Aku harus tetap mencari nafkah.
Pelan-pelan aku memulai kegiatanku lagi. Setiap hari aku mulai menyibukkan diri dengan banyak kegiatan terutama di sekolah. Kebetulan di sekolah tempatku mengajar juga banyak kegiatan. Aku berusaha menghilangkan kesedihanku dengan berbagai macam kegiatan itu.
Awalnya aku masih bingung, terutama untuk membesarkan anak – anakku. Mampukah aku, sedang sekarang aku harus mencari nafkah untuk kebutuhan semuanya sendiri.
Aku selalu berdoa dan berusaha, sebisaku Kebetulan yang ikut les privat denganku banyak. Dan itu membuatku semakin tenggelam dalam kesibukanku. Aku mulai menikmati cara hidupku. Tetapi kesulitan adakalanya datang, terutama soal bagaimana membiayai kuliah dan sekolah anak-anakku.
Waktu itu anakku yang besar yang kuliah di akademi kebidanan sangat membutuhkan banyak biaya untuk uang semesteran dan praktek. Aku sudah berusaha untuk mencari biaya kesana sini. Kenyataannya masih kurang 3 juta. Itu uang yang banyak bagiku. Dari mana lagi bisa kudapatkan? Uang tabunganku sudah habis, sertifikasi belum cair, koperasi sudah kupinjam. Oh, Tuhan.
Mau kemana lagi aku harus mencari biayanya. Aku tidak mungkin bilang pada anakku bahwa aku tidak punya uang dan tidak bisa melunasi administrasi kuliahnya. Aku tak tega mengutarakan hal ini padanya. Kasihan dia.
Di tengah kesulitanku itu, ternyata Tuhan memberikan jalan. Dia memberikan malaikat padaku, saat kebimbangan, kesulitanku ada seorang teman yang berbaik hati meminjamiku uang.
Aku sebenarnya malu pinjam uang pribadi. Tetapi apa boleh buat aku sangat membutuhkannya. Dan temanku itu bilang bahwa aku mengembalikannya sebisanya, semampuku, dan jangan dipaksakan.
Oh Tuhan. Ternyata masih ada orang di dunia ini yang menolongku tanpa pamrih. Dia dengan rela hati meminjamkan uang padaku. Terimakasih Tuhan, sudah Kau kirim penyelamat untukku.
————————————
Suatu ketika, anakku yang bungsu waktu itu mendaftar mau masuk SMP. Dan dia sudah di terima di sekolah swasta favorit, yang juga butuh biaya yang tidak sedikit. Setelah aku memberikan data–data supaya diberi keringanan oleh pihak sekolahnya, ternyata anakku dapat beasiswa. Puji syukur Tuhan, aku tidak repot memikirkan uang sekolahnya lagi.
—————————————-
Alam telah mengajarkan:
usai badai bergemuruh
kerisik angin dan rintik air
nun di sana berpendar semburat
selalu ada pelangi sehabis hujan
mempesona indah warnanya
(Bersambung)
*) Penulis Guru Mapel Fisika SMAN 1 Ambarawa






