Oleh: Erna Widyaningsih*)
7.Mencoba Menapaki Hidup
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tak terasa sudah setahun aku mengabdi jadi guru di SMA Semarang ini dan tinggal tak terpisahkan dengan keluargaku, di kota ini. Bahagia rasanya aku bisa mendampingi putriku belajar setiap hari, bermain bersama. Kumpul dengan keluarga. Mimpiku yang sudah lama kunantikan terwujud.
Kebahagiaan ternyata berpihak pada keluargaku. Aku pernah membaca bahwa sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Pasti ada dua sisi yang berbeda pada setiap kejadian. Meski diperlukan waktu untuk memahami dibalik suatu musibah, dibalik kedukaan pasti ada kesukaan. Dan itu terjadi padaku. Puji, Tuhan.
——————–
Sore itu perutku rasanya gak karuan. Aku ingin muntah tapi hanya air yang tertumpah. Mungkin masuk angin, karena kecapekan. Kubiarkan saja, nanti pasti sembuh. Esok harinya, rasa mual itu semakin menjadi. Ku ijin tidak masuk sekolah karena mau periksa ke dokter. Dengan diantar mas Hans, aku periksa ke dokter. Dari gejala- gejala yang kuceritakan dokter hanya senyum- senyum. Dan saat memeriksa senyuman itu berubah menjadi ucapan.
“ Bapak, ibu, selamat ya, ibu akan dikarunia seorang anak. “ dokter Wawan mengulurkan tangannya. Aku dan mas Hans saling berpandangan. Benarkah kata dokter?
Rasanya baru kemarin aku kehilangan anak lelakiku, masih terngiang suara tangis bayiku dan rasa kesakitanku saat melahirkannya. Tapi lamunan itu pudar ketika dokter mengulurkan botol kecil untuk tempat urine ku, supaya test kehamilan lebih akurat. Kulangkahkan kakiku ke kamar mandi. Setelah ku sodorkan botol kecil berisi urine. Hatiku harap-harap cemas. Semoga saja betul, dan aku sebentar lagi boleh menimang anak lagi.
Kuberdoa, berilah yang terbaik untuk ku dan keluargaku ya Allah, yang Maha Besar. Hanya padaMu lah aku serahkan hidupku. Tidak menunggu berapa lama lagi, hasil urine yang kutunggu datang, dan ternyata betul kata dokter, aku dinyatakan hamil. Ternyata usia kandunganku sudah 3 minggu. Terimakasih Tuhan, semua karunia-Mu yang sudah Kau berikan pada keluargaku.
Hari demi hari berganti, dengan rasa senang, gembira kulalui. Karena ingin hidup mandiri aku dan suami bertekat untuk membangun rumah untuk kami tinggali bersama. Sedikit demi sedikit dari hasil tabungan dan pinjam di bank kami membangun rumah, untuk kita tempati ,meski sederhana tapi itu rumah sendiri.Meski masih di sekitar dekat dengan rumah ibu, tapi aku merasa lebih enak, bebas di rumah sendiri. Karena rumah baru, jadi setiap hari pinginnya bersih – bersih terus. Dan berbenah – benah rumah, beli barang – barang untuk menghiasi rumah dan mengisi kelengkapan rumah.
Karena aku merasa masih mampu bekerja sendiri dari nyiapin sarapan pagi, makan siang dan malam, bersih – bersih rumah, nyuci, seterika tanpa bantuan asisten rumah tangga. Meski aku juga harus bekerja dari pagi hari sampai sore, kuusahakan menyelesaikannya sendiri.
Kandunganku semakin besar. Setiap bulan kukontrolkan keadaan kandunganku di dokter spesialis kandungan, karena ku tidak mau kehilangan anakku lagi. Dan hasilnya kandunganku sehat.
“ Mas, besuk kita ketempatan kumpulan RT,tolong bantu beres – beres ya mas”, mintaku pada mas Hans suatu hari.
“ Ya, wuk, beres, mau dihadiahi apa kalau dah bantu? “, ucap mas Hans genit sambil menghampiriku mengelus perutku yang buncit.
“ Ih mas, malu tuh dengan Khaila”, kataku merajuk. Khaila yang di dekatku senyum – senyum melihat polah papanya.
Hari Minggu, pumpung libur ku bersih – bersih rumah, ku nyuci juga,semua kurapikan, ku bereskan karena besuk akan kedatangan tamu, tetangga yang akan kumpulan RT di rumahku. Karena perutku membuncit aku agak tidak leluasa bergerak saat bersih – bersih.
Sering aku berhenti, istirahat dulu, cepet capek.Setelah semuanya rapi, bersih aku baru berhenti dan istirahat. Kali ini aku tidur lebih awal. Aku terlelap.
Pagi itu aku berangkat subuh karena hari ini tugasku menjaga Ujian Nasional di sekolah lain. Di hari pertama ku jaga UN, ku berangkat bareng dengan temanku yang sama – sama ditugaskan jaga di sekolah itu, naik mobil. Saat pulangnya ku juga bareng lagi, supaya cepat sampai rumah, karena nanti sore akan ada kumpulan RT. Aku harus nyiapkan segala macam keperluan yang dibutuhkan.
Tak terasa malam telah tiba, jam setengah 7 tamu undangan sudah ada yang datang. Aku dan mas Hans keluar untuk menyambut kedatangan mereka. Waktu itu belum banyak yang datang. Aku masuk lagi ke dalam rumah. Saat aku masuk dalam rumah karena kok rasanya capek banget, kandunganku terasa agak turun.
Sebentar kemudian tiba – tiba, pyukkk…..bajuku basah semua oleh air yang keluar dari rahimku, seperti ngompol menggenang di lantai.
Aku kemudian ganti baju yang basah kuganti dengan yang kering. Kemudian aku keluar kamar menemui tamu. Belum sampai beberapa langkah, tiba–tiba pyuukkk…., air ke luar merembes ke kakiku. Kuterpaksa ganti baju lagi. Itu terjadi sampai 3 kali. Ada apa ini ?
Saran dari tetangga agar aku memeriksakan diri ke bidan kusetujui. Dengan mas Hans akhirnya aku menuju rumah bidan desa. Bidan yang sudah berpengalaman. Dan para tamu undangan tidak kuurusi, aku langsung pergi ke bidan.
Sesampai di rumah bidan, kulangsung ditangani.
“ Bu, pak, karena air ketuban ibu sudah pecah dan supaya bayi dan ibu selamat maka harus dengan alat kedokteran yang komplit, yang di sini tidak ada, adanya di rumah sakit umum”, kata bu bidan yang menanganiku.
“Aku tidak mau di bawa ke rumah sakit, aku trauma”, kataku pada bu bidan. Dia kemudian mendengar ceritaku.
“ Gini aja, nanti ke rumah sakitnya saya ikut nangani, nanti selalu saya dampingi. Percayalah di sana alatnya lebih komplit, dan kalau tidak segera ditangani ini akan berbahaya untuk ibu dan anak. Janin akan meninggal di dalam perut ibu karena keracunan atau racun juga bisa menyebar ke seluruh tubuh ibunya sehingga kemungkinan bisa fatal.
Dengan dibantu bidan desa aku pergi ke rumah sakit umum untuk segera mendapat penanganan khusus. Waktu itu perutku tidak terasa apa- apa, tidak terasa sakit, belum kontraksi. Aku ditangani dokter spesialis kandungan dan bidan desaku. Aku agak tenang karena dikawal bidanku tadi. Setelah diperiksa dan disuntik, aku dipacu untuk segera bisa melahirkan. Beberapa waktu kemudian terdengar suara tangisan bayi keras sekali. Dan dokter memberi selamat padaku kalau bayinya sudah lahir dengan selamat.
“ Selamat bu, bayinya cewek,cantik”, kata dokter Irawan
“ Makasih dok, tolong perlakukan bayiku dengan baik, aku tidak mau kehilangan bayiku lagi” , kataku pada dokter Irawan
“ Iya, bu, tenang saja bu, percayakan pada kami”, kata dokter Irawan, seperti mengerti kegelisahaanku. Mungkin dokter Irawan sudah diceritai bu bidanku.
Bayi kecil mungil, beratnya hanya 1,9 kg, bayi prematur kulahirkan lagi dari rahimku. Dari pengalaman kelahiran bayiku yang terdahulu, aku hati – hati sekali dalam merawatnya.Setelah beberapa hari di inkubator rumah sakit dan bayiku sehat, bayiku diperbolehkan pulang.
Di rumah sudah kusediakan inkubator buatan sendiri, untuk memanaskan tubuh bayi prematurku.
Bayi kecil mungilku, tiap pagi kujemur di bawah sinar matahari pagi. Aku mandikan dia dengan minyak dari kelapa (kata orang tua dulu kalau bayi prematur dimandikan dengan air, konon tubuh bayi akan biru). Aku tidak mau kehilangan lagi, kujaga dan kurawat Shinta, bayi kecilku dengan telaten.
Sebulan, dua bulan pertumbuhan bayiku belum terasa, masih seperti semula: kecil. Padahal minumnya banyak, selain minum ASI juga minum susu kaleng yang khusus untuk prematur, meski harganya jauh lebih mahal dari susu kaleng biasa. Tapi tetap kubelikan, aku tidak eman, penting anakku sehat, tumbuh berkembang .
Beberapa bulan kemudian anakku tumbuh pesat, semakin besar dan tinggi. Syukurlah anakku sehat.Sekarang tumbuh jadi gadis kecil yang cantik, meski tidak bisa gemuk tetapi dia sehat. Aku sangat bahagia memiliki anak – anak yang cantik- cantik.Dulu aku takut yang akan terjadi pada anakku karena ku pernah diberi tahu kalau anak prematur itu ada dua kemungkinan kecerdasannya, mungkin bisa pintar sekali atau mungkin juga bisa bodoh sekali.Dan ternyata anakku yang kulahirkan meski prematur termasuk anak yang cerdas,dia dengan cepat mencerna kata – kata yang di dengarnya, lincah dan pandai, cepat menangkap apa saja yang diajarkan padanya.Terimakasih ya Allah dengan karuniaMu.
Kuntum bunga tumbuh
Mekar mewangi
harum baunya,
semerbak
indah sekali
(Bersambung)
*) Penulis Guru Mapel Fisika SMAN 1 Ambarawa







