Seminar Percandian dan Ekoteologi, Menteri Kebudayaan Fadli Zon Dorong agar Candi Menjadi Pusat kehidupan Berkelanjutan

Peristiwa308 Dilihat

JAKARTA – wartaintegritas.com – Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna) kembali menggelar seminar nasional dengan tema Merajut Spirituliats membongkar sejarah percandian Indonesia. Seminar ini menjadi ruang refleksi bersama mengenai hubungan antara spiritualitas, pelestarian lingkungan, dan warisan budaya Nusantara. Kegiatan yang digelar di Aula Utama Yayasan Sangha Theravada Indonesia, Pondok Labu, Jakarta Selatan , Jakarta Selatan 5 Mei 2026 menghadirkan tokoh agama, budayawan, akademisi, jurnalis, serta pegiat lingkungan dalam satu forum kebangsaan lintas iman dan budaya.

Yusuf Mujiono Ketua Umum PEWARNA dalam prakatanya mengajak peserta untuk terus menjaga warisan leluhur seperti candi dengan tetap menjaga alam dan lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab kita kepada Tuhan.

Seminar ini menghadirkan keynote speaker Menteri Kebudayaan Dr. Fadli Zon ini dan para narasumber seperti Banthe Dhamosubho Mahatera sebagai tokoh spiritual dan ahli Dharma Nusantara, Joe Marbun advokasi perlindungan budaya dan Ashiong P Munthe jurnalis Pewarna Indonesia.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam paparannya menegaskan bahwa candi banyak tersebar di Sumatera Jawa hingga berbagai daerah, itu bukan sekedar tumpukan batu atau monument mati, namun batu batu candi itu merupakan manuskrip visual bagaimana nenek moyang kita memandang sistem alam semesta yang terjaga baik di lereng gunung maupun dekat sumber mata air.

Arkeologi candi bukan merupakan fisik semata.  Tetapi kementerian budaya mendorong candi sebagai pusat kehidupan berkelanjutan dengan menyadari bahwa sejarah percandian kita selalu meletakan sebagai situs relegi di tengah ekosistem alam yang terjaga.

“Dengan adanya seminar ini kita mau meletakan pada kesadaran batin yang mendalam bahwa merawat bumi bukan saja segi sosial dan politik tetapi bagian integral sebagai tanggung jawab spiritual kita masing-masing,” demikian ujarnya. 

Lebih lanjut dijelaskan olh Fadli Zon bahwa dalam pespektif agama menjaga lingkungan adalah wujud perspektif tertinggi dalam ketaatan kita kepada sang pencipta. Alam adalah amanah yang dititipkan kepada kita untuk dikelola bukan diekploitasi tanpa batas, sebaliknya perlu menyadari bahwa bentuk perusakan lingkungan adalan sebuah pelanggaran dari amanah spiritual tersebut.

Ketika merusak alam menurutnya berarti kita memutus yang sudah digariskan dalam nilai-nilai ketuhanan, oleh karena itu pemulihan ekologi harus dimulai dari kesadaran religius kita.

Fadli Zon menyamaikan bahwa isu utama yang kita hadapi hari ini adalah ‘climate change’.  

Disinilah ekoteologi menjadi relevan, karena ekoteologi mengajak kepada kita bahwa merawat bumi adalah bagian ibadah, candi-candi adalah bukti tersebut, relief-relief yang menggambarkan flora dan fauna menunjukan bahwa pelestarian alam adalah standar spiritual, maka lanjut Fadli bahwa membiarkan alam itu membuat kebudayaan kita rusak.

 Sedangkan Banthe Dhamosubho Mahatera dalam pemaparannya menjelaskan bahwa betapa adiluhungnya peninggalan leluhur kita dengan peninggalan candi-candi yang tersebar di berbagai wilayah bukan saja di Indonesia tetapi beberapa negara tetangga.

Lebih lanjut Banthe mengatakan bahwa dengan peninggalan berupa candi membuktikan bahwa leluhur kita sudah memiliki peradaban yang maju. Buktinya bangunan candi Borobudur dengan bangunannya yang presisi artinya tehnologinyapun sudah sangat bagus.

“Dan candi-candi ini adalah karya anak bangsa yang saat itu memang penganut agama Budha. Nah ketika candi-candi ini bisa dikelola dengan baik sebagai warisan leluhur seharusnya memberi nilai yang positif bagi bangsa. Namun, sayang ada sesuatu yang menutup-nutupi agar warisan ini tidak terlihat,” ujarnya.

“Padahal ketika warisan leluhur itu dikelola dengan baik, akan membawa dampak positif bagi masyarakat setidaknya bahwa kita dilahirkan dari bangsa yang besar yang memiliki peradaban tinggi,” ujarnya.

Sedangkan Joe Marbun  menegaskan bahwa situs percandian di Nusantara bukan sekadar peninggalan arkeologis berupa bata atau batu andesit, melainkan representasi utuh dari peradaban agraris yang memiliki kesadaran ekologis dan spiritual tinggi. Dalam kerangka ekoteologi, candi dapat dipahami sebagai simbol relasi harmonis antara manusia, alam, dan dimensi spiritual.

“Namun, realitas hari ini menunjukkan adanya ancaman serius terhadap situs-situs tersebut—baik dari degradasi lingkungan, perubahan iklim, maupun rendahnya kesadaran publik. Oleh karena itu, pembacaan ulang terhadap lanskap percandian menjadi penting, tidak hanya sebagai upaya akademik, tetapi juga sebagai dasar advokasi perlindungan budaya dan lingkungan,” ujarnya.

Sedangkan Ashiong Munthe menyampaikan bahwa prinsip “carilah dahulu Kerajaan Allah” dalam perspektif ekoteologi mengandung makna bahwa nilai kebenaran, keadilan, dan pemeliharaan ciptaan dan ini harus menjadi dasar kehidupan bersama. Dalam konteks sejarah percandian Indonesia, ia melihat para leluhur Nusantara telah membangun spiritual geografi yang memadukan alam, arsitektur, dan pencarian makna hidup dalam satu kesatuan mandala kosmik. Menurutnya, sejarah percandian bukan hanya kisah masa lalu, melainkan memori peradaban yang mengingatkan masyarakat modern bahwa krisis ekologis muncul ketika manusia kehilangan kesadaran spiritual terhadap alam dan warisan budayanya sendiri.

(Suyito Basuki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *