Oleh: Suyito Basuki *)
JEPARA, wartaintegritas.com – Selasa 15 September, dengan diantar Henk Stenvers kami mengunjungi proyek sosial Oudezijds 100 di kota Amsterdam. Di Oudezijds 100 kami mengikuti ibadah di kapel yang terletak di bawah tanah. Oudezijds adalah proyek sosial yang melayani orang-orang yang bermasalah dan orang yang tidak memiliki rumah. Di depan rumah yang digunakan kegiatan sehari-hari terdapat sebuah kanal. Di seberang kanal terdapat kompleks prostitusi. Kompleks ini terbuka. Para PSK (pekerja seks komersial) memajang diri di etalase, bak barang-barang yang biasa diperjualbelikan.
Siverd Sinhe yang adalah pimpinan lembaga Oudezijds itu menjelaskan bahwa pernah seorang PSK yang ditolong oleh lembaga ini. Setelah makan siang di kantor ADS, maka Heydrik Leogte yang melayani sebagai pendeta di gereja mennonit Amsterdam mengajak meninjau gereja mennonit Amsterdam yang bersebelahan dengan kantor ADS. Setelah itu kami makan malam dengan jemaat gereja mennonit Amsterdam. Sebelum makan malam, kami disuguhi film dokumentasi jemaat gereja mennonit Amsterdam.

Rabu, 16 September kami diajak berwisata dengan menggunakan boat, mengitari kota Amsterdam. Sore harinya kami diajak bertemu dengan Pdt. Stanley Tjahjadi dan pengurus GKIN (Gereja Kristen Indonesia Nederland) di restoran Indonesia. GKIN melayani orang-orang Indonesia yang karena alasan pekerjaan atau studi berada di Belanda. Sehingga bahasa yang digunakan dalam pelayanan adalah bahasa Belanda dan bahasa Indonesia. Kami menikmati makan malam dengan masakan khas Indonesia. Usai makan malam, malam itu juga kami dijemput warga jemaat gereja mennonit Almere. Bersama dengan Pdt. Nahum Sudarsono, saya tinggal di rumah host family. Host family kami bernama Atte Bootsma, istrinya bernama Gerda. Atte bekerja sebagai pragramer komputer, dia memiliki 2 orang anak perempuan yang semuanya menginjak remaja.

Kamis, 17 September kami diajak ke proyek sosial gereja mennonit Almere “drop-in centre de ruimte”. Proyek sosial ini secara khusus membantu menangani para pengungsi dari Syria yang masuk ke Belanda. Prinsip equality bahwa semua manusia memiliki derajat yang sama ditekankan di proyek sosial ini. Ada sekitar 7000 orang tahun lalu mendatangi kantor proyek sosial ini dengan berbagai macam keperluan. Siang hari kami diajak ke pusat kota Almere. Almere adalah kota terbaru di Belanda. Di peta sebelumnya, daerah ini adalah daerah rawa. Kota baru ini ditata dengan baik.

Kalau di Amsterdam, bis, mobil, motor, kereta api listrik dan para pengendara sepeda di jalan yang sama, di Almere, kendaraan bis, mobil, dibedakan jalannya dengan kendaraan sepeda motor dan juga sepeda. Kami kemudian diantar oleh Elvin Leuhery yang menjadi tenaga volunteer di proyek sosial itu ke pusat perbelanjaan.
Di pusat perbelanjaan, saya menemukan sebuah toko barang-barang antik yang menjual peralatab gamelan seperti saron, kenong, gong, serta alat musik kerawitan Jawa lainnya. Asal tahu saja saron dijual 300 euro, kenong 450 euro, sedang gong 999 euro. Asal tahu saja, 1 euro saat itu seharga 16 ribu rupiah. Wah, tiba-tiba pengin jualan gamelan hehehe…
(Bersambung)










