Film Unexpected Peace di UKSW: Belajar Damai dari Perjumpaan yang Mengubah

SALATIGA, wartaintegritas.com – Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar acara Movie Review film Unexpected Peace pada Jumat (19/9/2025) di Gedung Probowinoto, Room G Building lantai 5. Acara ini menghadirkan dua produser sekaligus narasumber utama, yaitu D. Michael Hostetler (sutradara/produser) dan Dr. Jonathan Bornman (antropolog sosial/produser), dengan moderator Erio Rahadian P. Fanggidae, M.Hum.

Dari kiri ke kanan, Jonathan, Michael dan Rahadian (Foto : Iwan Firman Widiyanto/wartaintegritas.com)

Ruang Probowinoto yang nyaman dengan model teater mini dipadati oleh mahasiswa program magister dan doktor sosiologi agama. Diskusi berlangsung hangat dan penuh antusiasme, meski sempat mengalami kendala teknis pada saat awal pemutaran film.

Film dokumenter ini diproduksi Doftel Production,  menampilkan tiga kisah perjumpaan lintas budaya dan iman yang melahirkan perdamaian. Pertama, pengalaman komunitas Kristen Amish di Amerika yang memilih mengampuni setelah tragedi penembakan anak-anak mereka. Kedua, kehidupan komunitas muslim murid pendatang dari Senegal di Harlem, New York. Ketiga, kisah unik di Indonesia: pertemuan dan persahabatan antara  Paulus Hartono  sebagai Pendeta dari Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Surakarta dan Yani Rusmanto, mantan komandan Laskar Hizbullah.

Barisan depan dari kanan ke kiri, Michael, Jonathan,Sumanto, Suwarto. (Foto : Echa/MDSI)

Kisah Paulus dan Yani menjadi sorotan utama karena keduanya berani melampaui prasangka dan permusuhan, hingga membangun relasi persahabatan yang menjadi simbol perdamaian.

Pemutaran film di UKSW merupakan permintaan khusus dari Dr. Sumanto Qurtuby, dosen Fakultas Teologi yang dikenal mendalami hubungan Islam-Kristen dan sekaligus terlibat sebagai konsultan dalam pembuatan film ini. Sebelumnya, film telah diputar dan didiskusikan di Sekretariat Bersama Kota Surakarta (13/9), Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta (UKDW), serta Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta (16–17/9). Setelah UKSW, rangkaian pemutaran akan berlanjut di GKMI Solagratia Semarang (20/9), GKMI Kudus Rayon II (23/9), dan GKMI Jepara (24/9).

Para peserta menyimak pembicara dengan antusias (Foto : Echa/MDSI)

Dalam wawancara, Dr. Suwarto, Kaprodi Program Doktor Sosiologi Agama UKSW, menilai acara ini istimewa karena membuka ruang pembelajaran lintas konteks.

“Kita belajar perdamaian dari tiga konteks yang berbeda – Amish di Amerika, komunitas Senegal di Harlem, dan perjumpaan Mennonite-Hizbullah di Surakarta. Kegiatan seperti ini perlu terus dilakukan agar kita belajar bahwa perdamaian lahir dari persahabatan dan perjumpaan,” ujarnya.

Sementara itu, Edi Priyono (72), salah seorang peserta dari Muria Damai Sentosa Indonesia (MDS) yang hadir, menyatakan bahwa film ini menginspirasi meski penuh tantangan.

“Menciptakan perdamaian, terutama bagi kelompok minoritas, bukan hal mudah. Dalam situasi ekonomi sulit seperti sekarang, kita berharap Indonesia tetap damai,” katanya.

Teofilo dan Sinthia Mahasiswa/i S2 Sosiologi Agama (Foto : Iwan Firman Widiyanto/wartaintegritas.com)

Suara mahasiswa pun menguatkan makna film ini. Teofilo Tuminti (24), mahasiswa S2 Sosiologi Agama semester 1, mengaku terinspirasi:

“Saya belajar bahwa saling mengenal itu penting supaya tidak ada rasa curiga. Komandan Hizbullah Yani Rusmanto dulu sangat membenci orang Kristen, tapi setelah mengenal pendeta Paulus, mereka justru bisa bersahabat. Jika kembali ke Manado, saya akan mengajak orang untuk saling berjumpa demi mengutamakan kemanusiaan,” jelasnya.

Senada dengan itu, Sinthia Prisila Komanau, mahasiswa S2 Teologi semester 1, menyatakan rasa syukur:

“Saya bersyukur masih ada orang-orang yang mau bekerja keras demi perdamaian. Film ini membuka mata bahwa perdamaian itu mungkin diwujudkan,” katanya.

Foto bersama dengan gaya menolak kekerasan (Foto : Echa/MDSI)

Dalam sesi diskusi, Dr. Jonathan Bornman menjelaskan alasan memilih Indonesia sebagai salah satu latar film:

“Kisah keberanian Pdt. Paulus Hartono dan Komandan Hizbullah Yani Rusmanto sangat menarik diekspos. Mereka berani memberi teladan nyata bagaimana membangun perdamaian di antara dua komunitas yang berbeda,” ujarnya.

Sementara itu, Michael Hostetler menambahkan bahwa Indonesia baginya adalah “hadiah bagi dunia”:

“Saya tertarik karena di sini perdamaian tidak dibangun dengan kekuatan senjata, melainkan dengan relasi sederhana yang lahir dari keberanian dua orang berbeda untuk saling terhubung. Itu pesan penting bagi dunia,” tegasnya.

Meski sempat terkendala teknis, acara berjalan lancar dengan diskusi yang inspiratif, meski waktunya terbatas. Kehadiran Unexpected Peace di UKSW tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang refleksi bahwa perdamaian nyata bisa lahir dari perjumpaan, persahabatan, dan keberanian untuk melampaui sekat-sekat perbedaan.

Oleh : Iwan Firman Widiyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *