Suyito Basuki Terpilih  Figur Budaya pada Apresiasi Pewarna Indonesia 2025

Peristiwa406 Dilihat

JAKARTA, wartaintegritas.com — Sosok pelestari budaya Jawa, yang juga Ketua Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna) Daerah Jawa Tengah, Suyito Basuki, setelah melewati seleksi dan polling yang melibatkan pengurus dan anggota Pewarna serta simpatisan, terpilih sebagai Figur Budaya Bidang Praktisi pada Apresiasi Pewarna Indonesia (API) 2025.  Penghargaan bergengsi tahunan dari Pewarna Indonesia ini akan diberikan dalam acara puncak di Aula Eka Hapakat, Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, tgl. 12 November 2025.  Sebagaimana yang telah direncanakan, usai acara penghargaan API akan dilanjutkan dengan Rakernas Pewarna tgl. 12-15 November 2025 di tempat yang sama. 

Selain Suyito Basuki, Figur Budaya yang dinominasikan sebelumnya adalah:  Viky Sianipar (Musisi dan Komponis Budaya Batak Kristen), Julie Sutrisno Laiskodat (Aktivis Budaya dan Pendorong Martabat NTT), dan  Prof. Drs. Kumpiady Widen, M.A., Ph.D. (Akademisi Budaya Dayak).

Penghargaan yang akan diterima di bidang budaya ini merupakan bentuk pengakuan atas dedikasi dan konsistensi Suyito Basuki dalam melestarikan bahasa, sastra, dan nilai-nilai luhur budaya Jawa di tengah arus modernisasi. Selama lebih dari tujuh tahun, ia tekun mengelola renungan harian berbahasa Jawa Dilah Kasukman di bawah Lembaga Pekabaran Injil Sinode Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ). Melalui perannya sebagai pemimpin redaksi dan editor, ia tak hanya menghidupkan kembali bahasa Jawa dalam konteks iman, tetapi juga menumbuhkan semangat menulis di kalangan generasi muda dan para pendeta.

Selain dikenal sebagai penulis dan pendidik budaya, Suyito Basuki yang sejak 2002 hingga 2024 melayani sebagai pendeta aktif di GITJ Kedungpenjalin Jepara ini juga menulis buku tuntunan Sesorah atau pidato berbahasa Jawa dan Tuntunan Menjadi MC Pengantin Jawa yang digunakan di berbagai pelatihan tingkat klasis dan gereja lokal. Karya tersebut membimbing banyak pemimpin jemaat dalam menyampaikan pesan yang santun, berakar pada tata bahasa dan nilai-nilai budaya Jawa.

Di ranah seni pertunjukan, Suyito juga dikenal sebagai dalang wayang kulit purwa dan wayang wahyu. Ia memadukan kisah Mahabharata dan Ramayana dengan nilai-nilai Alkitabiah, menghadirkan pertunjukan yang sarat pesan moral dan spiritual. Kemahirannya merupakan hasil pendidikan di Sekolah Pedalangan Habirandha, Kraton Yogyakarta, sekaligus warisan budaya dari sang ayah, seorang dalang di Salatiga.

Melalui karya dan ketekunannya, Suyito Basuki menjadi teladan pelestarian budaya yang menghidupkan, mendidik, dan mempersatukan. Pengurus Pusat Pewarna Indonesia, Yusuf Mujiono (Ketua Umum) dan Ronald Stefly Onibala (Sekretaris Jenderal), menegaskan bahwa penghargaan ini diberikan untuk menginspirasi insan media dan masyarakat Kristen agar terus berkarya dan berdampak bagi bangsa.

Apresiasi Pewarna Indonesia (API) merupakan agenda tahunan untuk memotivasi warga gereja dan masyarakat luas agar terus memberi kontribusi positif di bidangnya masing-masing. Tahun 2025, penghargaan ini diberikan dalam 12 kategori yang sudah disepakati oleh tim sebelum polling dilakukan, yaitu: 1. Tokoh Penjaga Keberagaman, 2. Birokrat Kesetaraan 3. Bidang Hukum yang Berdampak bagi Masyarakat Nasrani 4. Bidang Pemuda yang Menginspirasi dan Berpengaruh bagi Pemuda Nasrani 5. Artis/Publik Figur yang Paling Inspiratif bagi Masyarakat Nasrani 6. Bidang Pendidikan yang Paling Berperan bagi Masyarakat Nasrani, 7. Politisi yang Paling Berpengaruh dan Menginspirasi Bagi Masyarakat Nasrani 8. Tokoh Media yang Paling Berpengaruh dan Menginsipirasi bagi Masyarakat Nasrani 9. Tokoh yang Dipandang Oikumenis 10. Lembaga Misi yang Paling Berperan bagi Masyarakat Nasrani 11. Tokoh Budaya 12. Figur Peduli Lingkungan.  Nama-nama populer seperti Sherly Tjoanda Gubernur Maluku Utara dan Sindhen Elisa Orcarus Allasso masuk dalam nominasi.  Sherly Tjoanda masuk nominasi bidang Birokrat Kesetaraan dan pollingnya mendominasi, sementara Elisa Orcarus Allasso kategori Artis/ Public Figure hasil pollingnya belum unggul.

Penghargaan kepada Suyito Basuki yang saat ini melayani di GITJ Winong Pepanthan Salatiga ini menjadi bukti nyata bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan yang menuntun masa depan bangsa. Dengan semangat nguri-uri kabudayan Jawa, ia menunjukkan bahwa iman dan budaya dapat berjalan seiring, menghidupi nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Suyito Basuki yang menyelesaikan studi S1 di FKIP Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta serta S2 Theologia di STII Yogyakarta ini juga menjadi tim revisi Alkitab Perjanjian Lama berbahasa Jawa Formal untuk Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), mengupayakan firman Tuhan dalam bahasa Jawa tetap relevan bagi generasi masa kini tanpa mengurangi bobot teologi.

(Purwoto)

Tinggalkan Balasan ke Sambash Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar