Puncak Doa Nasional 2026, Para Pemimpin dan Tokoh Gereja Deklarasikan Kesatuan Tubuh Kristus

Berita29 Dilihat

JAKARTA — wartaintegritas.com — Para pemimpin gereja dan tokoh Kristen dari berbagai aras gereja nasional bersama jaringan doa, lembaga pelayanan, dan komunitas Kristen meneguhkan semangat kesatuan Tubuh Kristus dalam Momentum Kesatuan Doa Nasional (MKDN) 2026. Puncak kegiatan digelar bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026), di Balai Sarbini, Semanggi, Jakarta Selatan.

MKDN 2026 diinisiasi bersama oleh sejumlah aras gereja nasional, di antaranya Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Indonesia (PGBI), Gereja Ortodoks Indonesia (GOI), Bala Keselamatan, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, serta Jaringan Doa Nasional (JDN), Full Gospel Business Men’s Fellowship International (FGBMFI), dan berbagai gereja serta komunitas Kristen lainnya.

Mengusung subtema “Kolektif, Sinergi, dan Bertumbuh untuk Kebangkitan Indonesia,” MKDN menjadi momentum bagi umat Tuhan untuk merendahkan diri, berdoa, mencari wajah Tuhan, serta melakukan pertobatan demi pemulihan bangsa, sebagaimana pesan dalam 2 Tawarikh 7:14.

Sekretaris Umum PGI, Darwin Darmawan, menekankan pentingnya doa sebagai sarana umat Tuhan memahami kehendak-Nya bagi bangsa Indonesia.

“Kita memerlukan doa. Melalui doa, kita akan memahami apa yang Tuhan inginkan bagi Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Toni Mulya menegaskan bahwa MKDN bukan sekadar sebuah kegiatan seremonial, melainkan momentum bagi gereja untuk mengambil posisi dan berdiri bersama bagi Indonesia.

“MKDN dilaksanakan secara nasional dan serentak di 620 titik yang tersebar di 38 provinsi, mencakup berbagai kota dan wilayah di Indonesia,” jelasnya.

Fasilitator Umum JDN, Aristakus Tarigan, menjelaskan bahwa pelaksanaan secara serentak tersebut menjadi salah satu wujud nyata kesatuan Tubuh Kristus dalam membawa bangsa Indonesia ke dalam doa.

“Keserentakan ini menunjukkan bahwa gereja dari berbagai latar belakang dapat bersatu, berdoa, dan berdiri bersama bagi Indonesia,” ungkapnya.

Puncak Doa di Balai Sarbini

Acara nasional MKDN 2026 berlangsung di Balai Sarbini, Jakarta, pada Senin (17/8/2026), mulai pukul 15.00 hingga 21.00 WIB, dengan puncak acara berlangsung pukul 17.30–21.00 WIB.

Kegiatan tersebut melibatkan para pemimpin gereja, hamba Tuhan, pelayan Tuhan, serta tim pujian dan penyembahan dari berbagai denominasi gereja.

Suasana doa dan penyembahan semakin semarak dengan pelayanan sejumlah pemuji, antara lain Ps. Sidney Mohede bersama JPCC Worship, Eldhy Victor, IFGF Praise, GKII Worship Team, Paduan Suara Bala Keselamatan, Gekari Damai Sejahtera Worship Team, dan JDN Worship Team.

Melalui rangkaian pujian, penyembahan, doa, pertobatan, dan deklarasi iman, peserta diajak menempatkan persatuan gereja sebagai kekuatan spiritual untuk mendoakan masa depan bangsa Indonesia.

Ps. Edy Leo menegaskan bahwa melalui MKDN, umat Tuhan diajak untuk bersyukur, bertobat, berdoa, bersatu sebagai Tubuh Kristus, serta mendeklarasikan iman bagi Indonesia.

Semangat tersebut juga diwujudkan melalui gerakan Indonesia Menyembah 5, yang mendorong gereja-gereja di berbagai kota untuk membangun mezbah doa dan penyembahan bagi bangsa.

Meneguhkan Kesatuan Tubuh Kristus

Aristakus Tarigan kembali mengajak umat Tuhan untuk tidak berhenti pada momentum perayaan, tetapi melanjutkan gerakan doa dan kesatuan gereja dalam kehidupan sehari-hari.

“Mari kita tangkap momentumnya, bangkitkan para pendoa, satukan Gereja, dan berdiri bagi Indonesia.”

Pesan tersebut sejalan dengan firman Tuhan dalam 2 Tawarikh 7:14 yang mengingatkan umat untuk merendahkan diri, berdoa, mencari wajah Tuhan, dan berbalik dari jalan-jalan yang jahat.

Puncak MKDN 2026 akhirnya menjadi momentum penting bagi para pimpinan dan tokoh gereja untuk mendeklarasikan kesatuan Tubuh Kristus, sekaligus meneguhkan komitmen bersama untuk terus berdoa, membangun sinergi lintas denominasi, dan mengambil bagian dalam membawa Indonesia menuju kehidupan bangsa yang semakin baik.

Kesatuan dalam doa diharapkan tidak berhenti di Balai Sarbini, tetapi terus bergema di gereja-gereja, komunitas, dan berbagai jaringan doa di seluruh Indonesia sebagai gerakan bersama untuk bangsa.

(Purwoto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *