KABUPATEN PATI, wartaintegritas.com – Era modern bercirikan individualisme, sebaliknya, era postmodern bercirikan kolektif karena ingin menunjukkan ciri khas kelompoknya. Soal kebaikan, manusia modern tidak mudah berbuat baik kepada orang lain, karena keindividualismenya, kecuali jika kebaikan yang dilakukan membawa manfaat bagi dirinya sendiri.
Sebaliknya, manusia postmodern berbuat baik karena mengikuti jejak teman-temannya, dengan tujuan menunjukkan identitas kolektifnya. Realitas sehari-hari menjadi contoh dari kedua sikap tersebut, misalnya: ketika terjadi bencana alam. Manusia modern tidak mau menolong, karena tidak peduli, merasa bukan urusannya, dan terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Manusia modern bersedia menolong ketika terjadi bencana, karena ada kaitannya dengan kepentingannya. Sebaliknya, ketika bencana melanda, manusia postmodern dengan senang hati mengajak teman untuk menolong, untuk menunjukkan identitas kolektifnya. Manusia postmodern enggan menolong orang lain, takut disalahkan banyak orang, karena tidak mau menunjukkan jati dirinya. Demikian Pdt. Purwanto dalam khotbah sulungnya sesaat setelah ditahbiskannya sebagai pendeta jemaat di GITJ Gunungrejo Pati, Jumat 21 November 2025.

Enam tahun Purwanto lulusan S1 STT AIMI Surakarta melayani jemaat sebagai Guru Injil. Purwanto yang beristrikan Sri Natalin dan memiliki dua orang anak Bryant Jesse Adi Putra Purwanto 2. Brandon Timothy Oktavian beralamatkan di Ds. Puncel Rt 02/ Rw 04 Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati. Dengan mengutip Galatia 6:8, Purwanto mengajak jemaat GITJ Gunungrejo membangun kehidupan yang selaras dengan membangun perbuatan baik. “Karena membangun kehidupan yang selaras dengan Roh berarti membangun kehidupan yang menghasilkan buah-buah rohani yang dapat dinikmati oleh orang lain. Oleh karena itu, sudah sepantasnya membangun perbuatan baik harus selalu diupayakan oleh orang Kristen dan jangan pernah lelah berbuat baik. Orang Kristen yang selalu berusaha membangun kehidupan yang semakin terhubung dengan Yesus,” demikian pesan yang disampaikan dalam kotbahnya dengan penuh semangat.

“Berbuat baik bagi orang Kristen adalah karena memang sudah menjadi kodrat mereka untuk melakukannya. Orang Kristen yang berbuat baik tidak akan tumbuh dengan rasa dendam. Orang Kristen yang berbuat baik juga tidak berbuat baik karena mereka mengikuti orang banyak teman mereka. Rutinitas harian: Ketika seseorang dalam kesulitan, orang Kristen menawarkan bantuan karena mereka digerakkan oleh hati yang dipenuhi Roh. Orang Kristen seharusnya membantu karena hati mereka dipenuhi dengan kasih, bukan karena mereka mengikuti orang banyak, bukan hanya karena mereka disuruh,” ujarnya.
Purwanto ditahbiskan sebagai pendeta oleh Ketua Umum Badan Pekerja Harian Sinode Pdt. Cornelius Teguh Sayoga, S.Th., M.A., M.Pdk. Sebelum ditahbiskan Pdt Suratman, M.Th. mengajak Gereja harus bekerja sama dengan jemaat (Penatua, Diaken, & Pendeta) di bawah naungan Roh Kudus untuk selalu berusaha berbuat baik demi mewujudkan visi gereja. “Ingatlah bahwa berbuat baik adalah perintah Allah sendiri. Jangan berkecil hati atau patah semangat meskipun menghadapi banyak kesulitan,” demikian Suratman yang merupakan Badan Pekerja Harian Sinode yang membidangi Marturia ini. “Perbuatan baik akan mendatangkan pahala sesuai dengan waktu Allah,” demikian Suratman memberikan penekanan.

Badan Pekerja Harian (BPH) Sinode GITJ melalui Iskandar MZ, SE menyampaikan harapannya agar jemaat mendukung pekerjaan pendeta dalam menjalankan tugas kependetaannya. Kepada Pdt. Purwanto, STh. Iskandar yang memiliki jabatan Bendahara Umum di Badan Pekerja Harian Sinode GITJ ini menekankan bahwa Purwanto tidak hanya sebagai pendeta lokal tetapi juga menjadi pendeta di wilayah Sinode GITJ. “Anda kini bukan hanya seorang pendeta di gereja lokal, tetapi Anda telah menjadi bagian dari para pendeta di wilayah Sinode GITJ. Oleh karena itu, kontribusi Anda dalam bentuk bantuan praktis, waktu, dan tenaga sangat kami harapkan dalam konteks yang lebih luas; yaitu di Klasis Utara, di wilayah Sinode GITJ, dan tempat-tempat ibadah lainnya di lingkungan yang lebih luas atau komunitas GITJ,” demikian ujarnya dalam sambutannya.

Sementara itu Ketua Panitia, Surinta berharap berharap, melalui usaha GI Purwanto, S.Th. yang telah ditahbiskan sebagai pendeta, GITJ Gunungrejo semakin bertumbuh dalam iman dan bertumbuh di dalam Yesus, serta menjadi berkat bagi tetangga dan masyarakat sekitar.
Di dalam acara penahibsan yang dihadiri oleh Camat Dukuhseti Suhartono dan juga para pendeta di lingkungan Sinode GITJ dan seluruh jemaat GITJ Gunungrejo juga diadakan peringatan hari ulang tahun gereja yang mencapai usia 28 tahun.
(Suyito Basuki)










