KAB. JEPARA – wartaintegritas.com – Hari Sabtu, 7 Maret 2026 bertempat di Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Bondo Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara diadakan ibadah Emeritasi dan Penahbisan Pendeta. Ibadah emeritasi dilakukan terhadap Pdt. Y. Supriyadi, S.Th. yang sudah berusia genap 60 tahun. Sedangkan ibadah penahbisan dilakukan terhadap Pemb. Pdt. Yosua Kartono, S.Th.
Bertindak sebagai pelaksana emeritasi dan penahbisan adalah Pdt. Chornelius Teguh Sayoga, S.Th., M.A., M.Pd. K. yang adalah Ketua Umum Badan Pekerja Harian (BPH) Sinode GITJ. Dalam pesannya kepada jemaat GITJ Bondo Pdt. Chornelius Teguh Sayoga supaya jemaat mendukung pelayanan Pemb. Pdt. Yosua Kartono, S.Th. yang sudah sah menyandang gelar kependetaan sehingga akan ada kemajuan jemaat dalam pertumbuhan rohaninya. Demikian juga Pdt. Chornelius Teguh Sayoga meminta jemaat untuk tetap mengasihi dan memperhatikan kehidupan Pdt. Em. Supriyadi, S.Th. yang telah melayani jemaat berkisar 26 tahun.
Terlibat Pelayanan Masyarakat
Usai diemeritasi, Pdt. Em. Y. Supriadi menyampaikan keterlibatan pelayanannya, saat masih aktif sebagai pendeta kemaat, tidak sebatas pada pelayanan gerejawi, tetapi juga masyarakat secara luas. Desa Bondo menurutnya merupakan desa dengan toleransi masyarakat yang sangat baik di bidang agama. Meski Pdt. Y. Supriadi seorang rohaniwan Kristen tetapi tetap dilibatkan dalam pelayanan masyarakat di desa, khususnya di bidang keluarga berencana.
“Saya pernah mewakili tokoh Kristen di acara lomba BKKBN Kabupaten Jepara yang diwakili dari Kecamatan Bangsri sampai tingkat Nasional dan mendapat Juara 1 pada tahun 2024,” demikian ujarnya.

Pdt. Y. Supriadi dipanggil untuk melayani di GITJ Bondo sebagai tenaga orientasi sejak tahun 1999, setelah pendeta sebelumnya Pdt. Murdono dipanggil Tuhan. Kemudian diangkat menjadi pembantu Pendeta dan ditahbiskan menjadi Pendeta GITJ Bondo pada 28 September 2001.
Dalam pelayanan Pdt Y. Surpyadi memiliki prinsip A3 : “Ajur, Ajer, Asor” yang memiliki makna berani menghadapi tantangan dalam pelayanan walau sampai “Ajur”. Sekeras apapun dalam pelayanan, seorang hamba harus bisa “Ajer”, yaitu segera cair kembali. Bahkan “Asor”, yang memiliki maksud, ketika Gembala Jemaat tidak dihargai, dipandang rendah, dianggap “Asor” ‘, harus tetap merendahkan diri sampai serendah-rendahnya. “Saya percaya akan Firman Tuhan ‘Aku tansah nunggal karo kowe nganti tumeka ing wekasane jaman,’” demikian Pdt. Y. Supriyadi sampaikan prinsip pelayanannya.
Melakukan Kasih Tanpa Pamrih
Dalam khotbah sulungnya yang mendasarkan pada nas 1 Korintus 13:13, Pdt. Yosua Kartono, S.Th. menyampaikan bahwa karunia bisa berakhir, jabatan bisa hilang, dan pengetahuan bisa usang. Namun, jemaat diharapkan memiliki tiga hal yang uta ma, yakni iman, pengharapan dan kasih. ” Iman yang murni untuk tetap percaya walau situasi sulit. Pengharapan yang teguh untuk tetap menatap kedepan pada janji Tuhan, dan kasih yang melimpah untuk merangkul sesama tanpa pamrih dan tanpa pandang bulu,” demikian tegas Yosua Kartono.

“Hal ini harus selalu diingat dan direnungkan oleh kita bahwa tanpa kasih, iman kita kering dan pengharapan kita menjadi egois. Marilah kita menjadi jemaat yang dewasa, yang tidak lagi mengejar pengakuan manusia, melainkan terus hidup menyatakan kasih sebagai wujud nyata kehadiran Tuhan dalam hidup kita,” ajak Yosua Kartono kepada jemaat yang memadati gedung bersama dengan tamu undangan lainnya.
Mengakomodasi Karunia Jemaat
Dari pihak Sinode, pesan disampaikan oleh Pdt. Teofilus Tumijan, S.Th. dan Pdt. Edy Cahyono, MA. CE. Dalam khotbahnya Pdt. Tehofilus Tumijan mengingatkan bahwa keberhasilan pelayanan itu bukan karena usaha manusia belaka. Sehingga pelayanan tidak boleh bergantung kepada manusia yang mungkin seorang sosok yang hebat.
“Pelayanan gereja tidak boleh bergantung pada sosok orang hebat, orang kaya, orang berpengaruh, yang disegani. Pelayanan gereja adalah hasil dari kerja Roh Kudus, yang membuat semua anggota jemaat bergantung sepenuhnya kepada Kristus. Pertumbuhan gereja tidak ditentukan oleh kehebatan atau nilai plus seseorang, tetapi oleh kerendahan hati dan kehidupan doa sescorang di dalam Roh Kudus,” demikian Pdt. Theofilus Tumijan.

“Pelayanan gereja harus mampu mengakomodasi semua karunia jemaat sehingga dapat menggerakkan seluruh aktifitas pelayanan sehingga persekutuan menjadi lebih efektif dan berdayaguna. Namun acapkali dijumpai ada sosok-sosok pengendali gereja yang akhirnya mematikan karunia Roh di dalam jemaat. Sosok-sosok itu bukan berpengaruh karena penuh Roh Kudus, tetapi karena pangkat, nama, dan pendidikan. Inilah yang seringkali menjadi biang dari permasalahan yang menghentikan produktifitas pelayanan di dalam gereja,” tegas Pdt. Theofilus Tumijan. Pdt. Edy Cahyono, MA. CE. menyampaikan pesan dalam sambutannya supaya jemaat tidak memperlakukan hamba Tuhan yang melayani seperti peribahasa “habis manis, sepah dibuang.”
Kesinambungan dalam Tubuh Kristus
Ketua Majelis GITJ Bondo drh. Sugeng Priyanto berharap supaya Pdt. Em. Supriyadi tetap bisa melayani jemaat GITJ Bondo meski tidak terlibat dalam struktural kegerejaan.
Ketua Panitia, Dita Listiawan, S.Pd. menyampaikan bahwa penahbisan bukan sekadar seremoni, melainkan penegasan panggilan Allah. “Di dalamnya ada komitmen, pengorbanan, dan
kesediaan untuk menggembalakan umat dengan setia. Kita percaya, Tuhan yang memanggil, Tuhan pula yang memperlengkapi. Penahbisan mengingatkan kita tentang kesiapan untuk memulai.” demikian ujar Dita Listiawan. Terkait emeritasi, Ketua Panitia ini juga menyampaikan bahwa emeritasi mengajarkan jemaat tentang kesctiaan hingga akhir. Baik penahbisan maupun emeritasi, menurut Dita Listiawan merupakan gambaran indah tentang kesinambungan pelayanan dalam tubuh Kristus.
Bondo, Bondhan Tanpa Ratu
GITJ Bondo tidak bisa lepas dari Ibrahim Tunggul Wulung sebagai perintis gereja. Saat Tunggul Wulung babad alas di Ujung Jati di wilayah Bondo, maka dipanggil oleh Wedana Banjaran (Bangsri?) karena tidak ijin. Tetapi Tunggul Wulung tidak mau datang, sehingga Wedana sendiri yang datang ke Ujung Jati. Ketika ditanya kenapa melanggar aturan cara berpakaian orang Jawa yang dilarang meniru berpakaian Eropa, maka Tunggul Wulung berkelit: “Yang melanggar siapa? Sebab saya membeli. Kalau begitu yang menjual saja yang tuan anggap melanggar, sebab ada yang menjual juga ada yang membeli.”
Akhirnya karena Wedana kebingungan, maka dilaporkanlah kepada Bupati Jepara. Akhirnya Bupati Jepara memanggil Tunggul Wulung, sehingga setelah dipahami oleh bupati, maka Tunggul Wulung akhirnya diberi ijin. Sejak itu timbul pameo di Bondo:”Bondo, bandha bondhan tanpa ratu, ngetepeng tanpa tinandur.” Yang artinya kurang lebih: orang hidup yang dihormati, tanpa dikuasai atau menguasai orang lain, tiba-tiba menjadi orang pandai tanpa guru.
(Suyito Basuki)
















