Klaten — Wartaintegritas.com – Bupati Klaten, Hamenang Fajar Ismoyo, S.I.kom menghadiri acara “Sambung Roso” di Desa Tijayan, Klaten, sebagai sarana dialog terbuka dan penyerapan aspirasi masyarakat, Pada hari Kamis (23/10/2025).
Dalam kesempatan tersebut usai sambung rosa, Bupati Klaten memberikan pembaruan mengenai program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta hasil laboratorium terkait kasus keracunan makanan yang terjadi baru-baru ini.

Progres SPPG: Baru 30 dari Target 70
Bupati Klaten mengungkapkan bahwa progres program SPPG di sekolah-sekolah baru mencapai sekitar 30 unit dari total target 70 SPPG. Diharapkan, target 70 SPPG ini dapat tercapai paling lambat pada awal tahun mendatang. Meski kuota pendaftaran sudah penuh, saat ini masih dalam tahap proses perizinan dan pembentukan. Program ini ditujukan agar seluruh calon penerima manfaat, baik dari SD, SMP, maupun SMA, dapat segera menikmati fasilitas ini.
Kasus Keracunan: Ditemukan Bakteri E. coli pada Makanan
Terkait kasus keracunan yang terjadi sebelumnya, Bupati mengonfirmasi bahwa hasil uji laboratorium menunjukkan adanya temuan bakteri. Hasil lab yang dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) itu menunjukkan bahwa keracunan berasal dari bakteri pada makanan, khususnya E. coli yang ditemukan pada sup dan juga ditemukan bakteri pada nasi.
Dengan temuan ini, mengindikasikan adanya masalah pada air yang digunakan. Pihak pemerintah daerah kini menunggu asesmen dan keputusan dari pusat (BGN) mengenai langkah selanjutnya, seperti penutupan sementara atau permanen terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terlibat.

Imbauan Kesiapsiagaan Musim Hujan dan Angin Kencang
Menyikapi masuknya musim hujan yang disertai angin kencang, Bupati juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan gotong royong. Masyarakat diminta memangkas ranting pohon-pohon tinggi di sekitar lingkungan tempat tinggal, atau bahkan menebang pohon yang terlalu besar untuk mencegah risiko menimpa rumah warga.
Selain itu, kegiatan gotong royong juga harus digiatkan untuk membersihkan selokan dan sungai-sungai kecil agar tidak terjadi banjir saat intensitas hujan tinggi. Meskipun pemerintah daerah telah melakukan upaya penanganan banjir melalui dinas terkait, peran serta masyarakat di lingkungan sekitar tetap penting.
Oleh: Benyamin Hadinegoro/Dwijonagoro
















