Banjir Bandang Hantam Dusun Pengkolan, Sipirok: Ratusan Warga Mengungsi, Infrastruktur Lumpuh Total

Peristiwa1328 Dilihat

SIPIROK, TAPANULI SELATAN, wartaintegritas.com –  Bencana banjir bandang kembali melanda Tapanuli Selatan. Dusun Pengkolan, Desa Luat Lombang, Kecamatan Sipirok, menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah sejak banjir bandang menerjang pada 25 November 2025 lalu. Dengan jumlah penduduk sekitar 400 jiwa, hampir seluruh warga terdampak langsung oleh bencana ini.

Korban Jiwa dan Kerusakan Rumah Warga

Data awal menunjukkan 1 orang dinyatakan hilang (MD), 2 warga luka berat, dan 35 warga mengalami luka ringan. Kerusakan rumah warga sangat masif: puluhan rumah rusak berat dan 13 di antaranya hilang tersapu banjir.

Kerusakan parah infrastruktur (Foto: Iwan Firman W)

Sementara itu, kerusakan infrastruktur publik sangat signifikan, di antaranya: sekolah rusak, kamar mandi umum rusak, Masjid rusak, listrik padam, banyak tiang listrik roboh, jalan utama menuju Dusun Pengkolan putus di beberapa titik, jembatan penghubung rusak, lahan pertanian dan sawah tertimbun lumpur, dan empat mobil serta puluhan sepeda motor rusak

Terputusnya jalur utama menyebabkan proses evakuasi dan distribusi bantuan terkendala. Akses tercepat dari Tarutung yang biasanya hanya 1 jam, kini harus memutar sejauh 4 jam perjalanan karena jalan putus di banyak titik.

269 Warga Mengungsi, Krisis Air dan Sanitasi Mengancam

Sebanyak 269 warga kini berada di pengungsian, terutama di Desa Marsada berjarak 8 km dari dusun. Sisanya menumpang di rumah keluarga atau bertahan di lokasi asal dengan kondisi darurat.

Warga yang mengungsi (Foto: Iwan Firman W)

Situasi pengungsian yang sangat memprihatinkan – minim air bersih, tidak ada toilet (warga terpaksa menggunakan toilet masjid setempat), sumber air Desa Marsada juga rusak –  menimbulkan risiko kesehatan dan potensi konflik, sehingga penyediaan air bersih dan fasilitas MCK menjadi kebutuhan paling mendesak.

Tim MDSI Melakukan Assessment Lapangan

Pada Selasa, 2 Desember 2025, tim Mennonite Diakonia Service Indonesia/Muria Damai Sentosa Indonesia (MDSI) yang didukung WIJNA dan Mennonite Central Committee (MCC) tiba di Bandara Silangit untuk melakukan assessment di wilayah terdampak. Tiga relawan MDSI — Joko Supriyanto, Iwan Firman Widiyanto, dan Suprayitno — ditugaskan menjangkau wilayah-wilayah bencana di Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah.

Iwan Firman saat wawancara korban (Foto: Iwan Firman W)

Pada Rabu, 3 Desember 2025, tim bersama relawan lokal dari Tarutung — Nova Hutabarat, Lot Marsius Siburian, Carli Purba, dan Noni Karlina Barus — menempuh perjalanan lebih dari 4 jam menuju Sipirok melalui jalur memutar. Jalur utama tidak dapat dilewati akibat longsor.

Kesaksian Mengharukan dari Warga

Di lokasi pengungsian, tim mendengarkan kisah langsung para korban. Agus Salim (35) menceritakan bagaimana ia berjuang menyelamatkan anaknya yang terseret arus. Sang anak kini mengalami dugaan fraktur kaki. Agus memohon bantuan untuk membangun kembali rumah mereka yang kini sudah tidak layak huni.

Sementara itu, Ibu Panjaitan (55) dengan menangis meminta pemerintah dan lembaga kemanusiaan untuk membantu relokasi dan membangun rumah baru bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.

Dari pihak warga desa penerima pengungsi, Wati (49) meminta bantuan untuk memperbaiki fasilitas air bersih yang rusak di desanya karena hal ini menyebabkan pengungsian mengalami keterbatasan sanitasi yang serius.

Upaya Pembukaan Jalan Masih Terkendala Cuaca

Tim MDSI berusaha masuk ke Dusun Pengkolan untuk melakukan assessment langsung, namun akses belum bisa ditembus. Petugas di posko bantuan menyatakan bahwa alat berat bekerja terus-menerus membuka jalan, tetapi saat hujan turun, seluruh aktivitas harus dihentikan demi keselamatan petugas, karena risiko longsor susulan sangat tinggi.

Tim MDSI tidak bisa masuk ke lokasi karena jalan terputus (Foto: Iwan Firman W)

Sejumlah alat berat tetap siaga di lokasi untuk membuka jalur alternatif agar bantuan darurat bisa mencapai dusun tersebut.

Sinergi Bantuan Sangat Diperlukan

Melihat besarnya dampak dan kondisi pengungsian yang semakin darurat, sinergi cepat antara pemerintah daerah, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat menjadi sangat penting untuk: memperbaiki akses jalan, menyediakan air bersih dan MCK darurat, menyalurkan bantuan makanan, obat-obatan, dan selimut, serta merencanakan relokasi dan pembangunan rumah warga.

Banjir bandang yang dipicu hujan sebulan penuh dan hujan intens tiga hari dua malam ini kembali mengingatkan pentingnya penguatan mitigasi bencana di kawasan Tapanuli dan sekitarnya.

Bagi masyarakat yang tergerak untuk membantu para korban banjir bandang di Dusun Pengkolan, bantuan dapat disalurkan melalui:

Rekening BCA 7735492233

a.n. Muria Damai Sentosa

Setiap dukungan sangat berarti untuk menolong warga yang sedang berjuang memulai kembali kehidupan mereka pasca bencana.

(Iwan Firman W)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *