Al Zaytun Peringati 1 Syuro 1448 H, Tokoh Nasional dan Lintas Agama Serukan Persatuan dan Kemandirian Bangsa

Peristiwa32 Dilihat

INDRAMAYU – wartaintegritas.com — Ma’had Al Zaytun kembali menyelenggarakan peringatan Tahun Baru Hijrah 1 Muharram 1448 H. atau yang populer dikenal sebagai 1 Syuro pada Selasa (16/6/2026) di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin. Kegiatan yang dihadiri lebih dari sepuluh ribu peserta ini mengangkat tema “Memperkokoh Persatuan Demi Mewujudkan Kemandirian Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global.”

Hadir dalam kegiatan tersebut para akademisi, guru besar, tokoh masyarakat, pejabat TNI, tokoh lintas agama, tokoh pendidikan, serta tamu dari dalam dan luar negeri.

Sebagai puncak acara, Ketua Yayasan Pesantren Indonesia, Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS, MBA CRBC. menyampaikan Pidato 1 Syuro 1448 Hijriah. Dalam pidatonya ia menegaskan bahwa pendidikan merupakan instrumen utama untuk memperkuat persatuan dan membangun kemandirian bangsa.

Ia menjelaskan bahwa Al Zaytun terus mengembangkan model pendidikan berasrama terintegrasi yang menggabungkan penguatan karakter, nasionalisme, penguasaan ilmu pengetahuan, serta kemandirian ekonomi. Menurutnya, gagasan pembangunan 500 pusat pendidikan nasional berasrama yang terintegrasi merupakan kontribusi nyata untuk mempercepat kemajuan Indonesia.

Datuk Imam juga menyoroti pentingnya kedaulatan pangan dan pengembangan sektor pertanian berbasis nilai. Berbagai program pengembangan padi unggul, perkebunan durian Kadu Hideng, serta penguatan kawasan pertanian produktif menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi berbasis pendidikan.

Pada kesempatan tersebut, ia juga mengajak seluruh hadirin mendoakan Almarhum Ustadz Ahmad Fauzi Abdul Halim, salah satu tokoh penting Al Zaytun yang wafat beberapa hari sebelumnya.

Dalam kesempatan tersebut, Drs. Ch. Robin Simanullang, Wartawan Senior Majalah Tokoh Indonesia, menilai Al Zaytun telah berkembang menjadi laboratorium persatuan Indonesia. Menurutnya, nilai persatuan yang selama ini dikumandangkan para pendiri bangsa telah dipraktikkan secara nyata di lingkungan Al Zaytun melalui keterbukaan terhadap berbagai golongan dan latar belakang masyarakat. Ia menegaskan bahwa persatuan merupakan modal utama bangsa untuk menghadapi berbagai tantangan global.

Pandangan serupa disampaikan Drs. Amich Alhumami, M.A., M.Ed., Ph.D., Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas 2022–2025 serta anggota Dewan Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek 2025–2029. Menurutnya, Indonesia dibangun oleh para pemikir dan kaum terpelajar yang mampu mewujudkan sesuatu yang tampak mustahil menjadi kenyataan. Ia menegaskan bahwa pendidikan merupakan instrumen utama untuk membangun bangsa yang maju dan berdaya saing.

Sementara itu, Dr. Ir. Johan Pasaribu, Ketua II Ikatan Keluarga Alumni Kebangsaan (IKABNAS) Lemhannas RI, menyoroti pentingnya kemandirian nasional, khususnya di bidang ekonomi dan pangan. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya yang sangat besar, namun memerlukan sumber daya manusia yang profesional, nasionalis, dan memiliki semangat membangun bangsa. Ia juga menekankan pentingnya pendidikan vokasi dalam menyiapkan generasi masa depan.

Dari perspektif pertahanan negara, Kolonel Inf. Dikdik Sadikin, Pamen Ahli Bidang OMP Sahli Pangdam III/Siliwangi, menegaskan bahwa persatuan merupakan modal utama bangsa dalam menghadapi perkembangan teknologi, dinamika ekonomi global, perubahan sosial budaya, dan berbagai ancaman terhadap keutuhan bangsa. Ia mengajak seluruh komponen bangsa memperkuat ukhuwah, persatuan, dan semangat kebangsaan.

Di bidang ekonomi, Prof. Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D., Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, menyampaikan optimisme terhadap masa depan Indonesia. Menurutnya, potensi ekonomi Indonesia sangat besar, baik dari sisi sumber daya manusia maupun sumber daya alam. Ia menilai gagasan pembangunan pusat-pusat pendidikan berasrama terintegrasi merupakan langkah strategis dalam membangun kemandirian bangsa.

Ir. Ilham Aidit, Pendiri Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB), menyoroti tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari perang dagang, perubahan iklim, perkembangan kecerdasan buatan (AI), hingga geopolitik internasional. Menurutnya, persatuan menjadi syarat utama agar Indonesia tidak sekadar menjadi penonton, melainkan mampu mengambil peran penting dalam percaturan global.

Sementara itu, Dr. Kartini Istikomah, S.E., M.M., Dosen Universitas Budi Luhur dan Ombudsman Commissioner RI periode 2011–2016, mengapresiasi kuatnya budaya toleransi yang ia temukan di Al Zaytun. Menurutnya, pendidikan harus melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga integritas, kejujuran, dan kemandirian untuk membangun bangsa.

Pesan inspiratif disampaikan oleh Patrick Winata, Founder ELV8 Clinic dan Strength and Conditioning Coach. Melalui kisah perjuangannya mencetak rekor dunia Guinness World Record dalam kegiatan kemanusiaan, ia mengajak generasi muda memaknai hijrah sebagai keberanian untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik, lebih disiplin, dan lebih peduli terhadap sesama.

Di bidang pertanian dan ketahanan pangan, Dr. Ir. Bagus Priyo Purwanto, M.Agr. dari IPB University menegaskan bahwa Indonesia sesungguhnya mampu mewujudkan kemandirian pangan. Menurutnya, bangsa Indonesia perlu lebih percaya pada kemampuan sendiri dan terus mengembangkan inovasi pertanian, peternakan, serta teknologi yang mendukung kedaulatan pangan nasional.

Dari kalangan lintas agama, Pdt. Dr. Amir Aritonang, M.Th., Ketua Umum DPP Peduli Misi Desa, menilai persatuan harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar slogan. Ia mengapresiasi Al Zaytun sebagai ruang perjumpaan berbagai elemen bangsa yang berbeda latar belakang namun memiliki tujuan yang sama, yakni membangun Indonesia yang lebih baik.

Hal senada disampaikan Pdt. Wim Wairata, M.Th., Ketua Umum Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI). Ia menekankan pentingnya membangun hubungan manusia dengan Sang Pencipta, memperkuat pendidikan, dan menumbuhkan semangat kebersamaan sebagai solusi menghadapi berbagai persoalan global. Menurutnya, Al Zaytun telah menunjukkan praktik nyata pendidikan yang berorientasi pada persatuan dan transformasi sosial.

Sementara itu, Ws. Gunadi Prabuki, S.Pd., M.Ag., Kepala Bidang Pendidikan Tinggi Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, menegaskan bahwa kerukunan dalam kemajemukan merupakan syarat utama keberlangsungan bangsa. Menurutnya, Indonesia tidak kekurangan sumber daya, tetapi membutuhkan penguatan moralitas, integritas, dan nilai-nilai kebajikan.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Tangerang Selatan, Dr. H. Fachrudin Zuhri, Drs., M.Si., menilai Al Zaytun telah mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika secara konkret. Ia menegaskan bahwa persatuan dan kerukunan merupakan prasyarat bagi terciptanya kesejahteraan dan kemajuan bangsa.

Sementara itu, Pdt. Ir. Danny Soepangat dari Pasundan Menyembah mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersinergi membangun Indonesia yang lebih maju. Ia menekankan pentingnya semangat kebangkitan nasional, optimisme, dan kolaborasi lintas agama dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan.

Dari Malaysia, A. Ruzizan Maphilindo menyampaikan apresiasi terhadap semangat persatuan dan pendidikan yang dikembangkan Al Zaytun. Ia menilai model pendidikan yang dikembangkan di Al Zaytun dapat menjadi inspirasi bagi pembangunan sumber daya manusia di kawasan Asia Tenggara.

Ketua Panitia, Eji Anugrah, S.S., M.A.P. dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema peringatan tahun ini berangkat dari gagasan besar Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang mengenai pentingnya pendidikan sebagai jalan menuju kemajuan, kesejahteraan, dan kemandirian bangsa. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi bangsa yang maju apabila mampu menjaga persatuan dan mengembangkan pendidikan yang transformatif serta revolusioner. Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa memanfaatkan situasi damai saat ini untuk membangun peradaban dan menyiapkan generasi masa depan.

Peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah di Al Zaytun akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan pergantian tahun. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan gagasan, refleksi kebangsaan, penguatan toleransi, serta peneguhan komitmen bersama untuk membangun Indonesia yang bersatu, mandiri, dan mampu menghadapi tantangan global.

(Ali Aminulloh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *