Novel: Menguak Takdir Menepis Mimpi (10)

Fiksi94 Dilihat

Oleh: Erna Widyaningsih*)

6.Secepat itu, Engkau Tiba dan Berpulang

Sebulan sudah sejak peristiwa kebakaran itu suamiku belum bekerja. Karena semua ludes dilalap si jago merah. Untuk mengumpulkan modal untuk usaha lagi, ternyata sulit. Mas Hans sudah berusaha ke sana ke mari mencari modal, dan berusaha bekerja semampunya.

Sebenarnya aku mencoba tidak memikirkan peristiwa kebakaran kemarin, tapi tidak tahu kenapa kepikiran terus.

 Hari Minggu pumpung libur, aku dan mas Hans pergi ke rumah kakaknya mas Hans yang tidak jauh dari rumahku, tidak ketinggalan Khaila juga ikut.

Di sana kebetulan banyak buah – buahan tersaji dan roti. Aku mencoba makan rambutan beberapa sambil ngobrol dengan kakakku, dan kulahap sebiji durian, rasanya lezat dan nikmat. Setelah ngobrol ke sana kemari dengan kakakku, aku pamitan pulang karena sudah sore.

            “Aduh…, aduh… ya Allah, teriakku seketika sambil terus memegangi perutku yang sakit luar biasa. Aku tidak tahu mengapa perutku tiba-tiba sakit amat sangat. Aku tidak bisa menahannya, seperti anak dalam perutku ingin keluar. Padahal usia kandunganku masih 8 bulan.

Aku mengerang kesakitan. Rasa nyeri di perutku ini aku yakin kalau sebuah konstraksi. Semakin aku ingin menahannya, semakin mulas, melilit nyeri sekali. Aku tak mampu berdiri atau duduk di kursi, aku baringkan tubuhku sambil memegang perut dengan kesakitan luar biasa.Tergolek menahan sakit, miring kanan atau ke kiri, tapi tetap terasa sakit. Keringat dingin membasahi tubuhku.

Karena sakit sudah tidak  bisa kutahan lagi, aku dilarikan ke rumah sakit umum. Setelah diperiksa dokter memutuskan agar aku dirawat inap di rumah sakit. Aku pasrah.  

Dokter memberiku obat penguat dan obat lainnnya supaya sakitku berkurang. Tapi tidak  semakin sembuh, malah menjadi semakin sakit, sampai ku menangis tidak kuat .

“Gimana, bertahan dulu ya, masih satu bulan lagi”, kata mas Hans suamiku, sambil mengusap keringat yg membasahi sekujur tubuhku karena menahan sakit.

Segala upaya sudah dilakukan. Dua hari dua malam ku kesakitan luar biasa. Sampai orang yang melihatku merasa kasihan karena kesakitan yang luar biasa.  Kami semua bersujud berdoa supaya sakitku disembuhkan. Tak tahan melihatku kesakitan kakak iparku menemui dokter supaya cepat ditangani kalau masih sama kondisinya akan dipindahkan saja ke rumah sakit swasta yang bagus, supaya segera ditangani.

“ Ohh… Mas, tolong aku mas, perutku sakit sekali!” “ Aduhhhh…ah…!!! ya Allah sakit…! teriakku berkali – kali sambil terus kupegang kuat perut bagian bawah. Aku mengerang kesakitan. Aku tidak kuat lagi.

Dan akhirnya dokter tidak bisa berbuat apa – apa untuk tetap mempertahankan janin dalam perutku. Ya harus segera dilahirkan kalau ingin tidak sakit lagi.

Akhirnya aku melahirkan seorang bayi laki – laki yang prematur. Bayi mungil itupun sudah kugendong, kecil , mungil, cakep seperti ayahnya.

Rasa sakit di perutku sudah tidak terasa lagi, apalagi setelah ku mendengar tangisan bayi kecil mungil, anakku. Karena lahir prematur anakku harus dimasukkan inkubator.

Tiga hari setelah melahirkan aku diperbolehkan pulang, tapi anakku belum boleh karena masih harus di inkubator. Setiap hari kutunggui di rumah sakit bersama suami tercinta. Tapi aku harus pulang, tidur di rumah kalau malam, dan esok harinya baru ke rumah sakit lagi untuk menyusui dan menunggui anakku.

Ini hari ke 8 sejak anakku lahir. Kondisi anakku sudah sehat, dan dokter menyatakan besuk bayiku sudah bisa dibawa pulang. Dan hari itu, siang itu aku bergegas pulang untuk beres – beres rumah, untuk menyiapkan tempat bagi kehadiran si mungil buah hatiku besuk.

 Dan karena kelelahan, aku tertidur. Sampai bunyi telepon berdering keras membangunkanku. Ternyata telepon dari rumah sakit supaya aku cepat ke rumah sakit karena anak kecilku dalam keadaan kritis. Antara bingung, kuatir jadi satu. Ada apa ini, apa yg terjadi dengan anakku?  Aku hanya bisa berdoa, dan gemuruh dalam dada semakin berdegup keras ketika ku sampai rumah sakit.

Aku mematung beberapa detik, tidak tahu apa yg harus dilakukan. Kudapati anak lelaki kecilku tergolek lemas tidak berdaya. Tubuhnya di pasang alat, selang di mana- mana, diambil lendir sampai bunyi keras menusuk hatiku, teringat bapak dulu sebelum meninggal juga diambil lendir yang bunyinya memekakkan telingaku dan miris aku mendengarnya.

Apa yang terjadi dengan anakku? tadi sewaktu kutinggalkan dia sehat, sempat ku susui, tersenyum denganku. Kenapa sekarang kau lemas seperti ini. Aku hanya bisa berdoa untuk anakku. Aku tidak tega melihat tubuh mungilnya semakin lemah. Ya Tuhan, tolonglah dia anakku.

Aku menunggu di luar hanya bisa berdoa, tolong Tuhan beri anakku kekuatan, jangan sakiti dia, berilah yang terbaik untuknya.

Dokter dan seorang suster jaga membuka pintu dan keluar dari ruangan anakku, menghampiri kami.

“ Maaf bapak dan ibu, kami sudah berusaha, tapi maaf anak bapak dan ibu  tidak bisa kita pertahankan”, kata dokter. Mendadak tubuhku lemas, tiada daya. Gelap. Aku tidak sadarkan diri.

Saat aku membuka mataku, banyak orang di sekelilingku, mas Hans, anakku yang besar, ibu, saudara saudaraku, tetanggaku. Ada apa ini, aku kenapa?  Aku berusaha mengingat apa yang sudah terjadi dengan diriku.

Dan aku ingat kalau anakku sudah tiada, pergi meninggalkanku. Air mataku jatuh berderai, badanku masih lemas. Aku bertanya pada suamiku, di mana anakku.

“Mas, bagaimana Andreas anak kita, baik – baik saja kan, kenapa aku dikerumuni seperti ini, ada apa?”, tanyaku pada mas Hans. 

Dengan sabar, suamiku berbisik, “ anak kita baik- baik saja, dia sudah tenang di surga”.

Mendengar itu, badanku yang masih lemas tidak berdaya lagi. Dengan tubuh gontai ku memaksa suamiku untuk melihat anakku. Anakku berada di ruang tengah, sudah ditutupi kain, hendak segera dimakamkan. Kubuka kain penutup anakku. Kuciumi dia sampai basah oleh air mataku. Hingga aku tersungkur dekat tubuh mungil anakku. Kembali aku tidak sadarkan diri.

Ketika ku sudah sadar,ku berada di dekat anakku yang sudah terbaring kaku. Khaila mendekati, “ Ma, kenapa dedek bayi ma? Kok diam aja ?” , celoteh Khaila.

Tak terasa semakin deras air mataku bercucuran membasahi pipiku.

“ Ma, kenapa menangis?, tanya Khaila sambil tangannya mengusap air mata di pipiku.

“ Jangan sedih ma, Khaila ikut sedih kalau mama menangis”, sahut Khaila kemudian.

Harus kukatakan apa pada Khaila kalau dedek kecilnya sudah tiada, sudah pergi meninggalkan dunia, tenang di surga.

Kemarin Khaila masih sempat ikut menjenguk adiknya di rumah sakit sepulang sekolah, menciumnya.Khaila sangat senang ketika adiknya lahir.

Kuteringat waktu itu ketika Andreas masih dalam kandungan, ketika Khaila akan mengajak bermain boneka berbie bersama adiknya.Tapi sekarang Andreas adiknya telah pergi. Khaila belum tahu, dia masih kecil belum mengerti kalau adiknya sudah tiada dan tidak akan bisa diajaknya bermain boneka lagi seperti yang diharapkannya.

—————–

Berhari hari aku hanya tiduran. Badanku masih lemas tiada daya. Bila ku ingat anakku, hanya derai air mata yang mengalir di pipiku, tanpa bisa berbuat apa-apa. Kenapa Allah tidak mendengarkan doaku, kenapa anakku harus Kau ambil?, kenapa aku tidak boleh menimang anak laki – lakiku?

 Setiap hari itu yang ada di pikiranku. Mungkin itu yang terbaik buat anakku yang kata dokter anakku sakit radang pernafasan, jadi harus selalu dibantu dengan selang oksigen.

Dan yang kutahu setelah kematian anakku, ternyata anakku kondisinya lemas, memburuk setelah oksigennya dilepas karena ada bayi lain yang lahir kembar dan rumah sakit kekurangan tabung oksigen. Kemudian diambilkan tabung oksigen dari anakku, yang perkiraannya sudah sehat, tidak membutuhkan oksigen lagi.

Aku jadi marah, geram dengan tindakan rumah sakit yang semacam itu. Ingin kutuntut rumah sakit yang sudah membuat anakku meninggalkanku. Ku masih ingat nama kepala bagian anak yang ceroboh menangani pasiennya.      “ SUCI”, nama perawat itu, ternyata tidak sesuci namanya, karena telah tega membuat anakku menderita, sehingga kesulitan pernafasan ketika tidak memakai oksigen lagi.

Tapi suamiku meski dia juga tidak bisa menerima kenyataan seperti itu, dia masih bisa berfikir secara logis. Dia tidak menyalahkan siapa – siapa, dia sudah pasrah kan pada Yang Kuasa.

Mungkin Allah punya rencana lain dengan yang sudah kita alami saat ini, kita pasrahkan saja pada yang di atas. Allah tahu yang terbaik bagi kita. Hibur suamiku.

Aku selama seminggu belum bisa masuk kerja. Kondisi tubuhku masih lemas. Asam lambungku menjadi, tapi aku tidak mau berbaring di rumah sakit. Aku masih trauma dengan rumah sakit. Aku periksa ke dokter dan obat jalan. Saat diriku terpuruk karena kehilangan anakku, banyak teman-teman datang silih berganti menghiburku. Mereka membesarkan hatiku.

—————–

Suatu hari, ada tamu datang mencariku.

“ Permisi bu, apa bu Lia ada? “ kata tamu yang kedengaran suaranya adalah suara laki – laki ketika ibu membukakan pintu.

“ Ada, silahkan masuk, kalau boleh tahu siapakah bapak ini ya ?”, tanya ibu penasaran karena belum kenal tamu yang baru datang.

“ Maaf bu,saya temannya bu Lia dari Gunungkidul.Boleh saya bertemu bu Lia?,kata pak Yanto

“ O ya tunggu dulu ya pak, silahkan duduk dulu”, kata ibu sambil mempersilahkan pak Yanto masuk dan duduk di ruang tamu.

Ibu menemuiku di kamar yang masih malas – malasan dan memberitahuku kalau ada tamu dari Gunungkidul Yogya.

Tak lama setelah kurapikan baju dan rambutku, aku keluar menemui pak Yanto.Pak Yanto adalah kepala TU ( Tata Usaha ) di sekolahku.

—————-

“ Bu, apa kabarnya?”, kata pak Yanto menyambut kedatanganku.

“ Baik pak, bapak sendiri bagaimana khabarnya?”, sahutku kemudian.

“ Baik bu.Bu maksud kedatangan saya ke sini membawa khabar gembira untuk ibu”, kata pak Yanto kemudian.

“ Kabar gembira apa pak? Saya dapat arisan? Biar untuk yang lain aja tidak apa – apa pak, tidak usah repot – repot mengantar ke sini”, kataku sok tahu 

“ Bukan itu bu, tapi khabar gembira itu adalah yang ibu tunggu – tunggu yaitu pengganti guru IPA yang baru sudah ada, meski orangnya belum menampakkan batang hidungnya ke sekolahan. Saya dapat informasi dari Kanwil kalau akan ada guru baru yaitu guru IPA.”, kata pak Yanto menjelaskan.

“ Bu, dalam masa berkabung ini mungkin Allah akan mengabulkan setiap doa umatnya. Dan doa-doa terbaik yang lebih penting yang akan dikabulkannnya. Coba di masa berkabung ini mengusulkan untuk pindah ke sekolahan yang lebih dekat. Nanti segala sesuatunya akan saya bantu. Lebih cepat lebih baik”, kata pak Yanto menyampaikan dengan hati – hati sekali.  Mungkin dia takut mengusik hatiku yang masih sedih ditinggal anakku.

“Di saat berkabung ini, mungkin permohonan ibu untuk pindah bisa dikabulkan”, pak Yanto memberi saran supaya aku secepatnya mengurus pindah sekolah yang dekat dengan keluarga.  

“Sambil nenunggu guru baru  pindahan dari Kalimantan, sebaiknya ibu juga mengurus kepindahan ke Semarang”, saran pak Yanto kemudian.

Setelah panjang lebar pak Yanto bercerita dan ngobrol denganku, karena sudah sore pak Yanto pamitan untuk pulang.

Malam harinya maksud kedatangan pak Yanto menemuiku kusampaikan pada mas Hans. Mas Hans menyambut dengan antusias.Dan akan mengantar mengurus semuanya ke Yogya.

Keesokkan harinya, dengan semangat membara, kulangkahkan kakiku ke SMA terdekat dengan rumah tempat tinggalku untuk minta R 10, untuk tahu kebutuhan guru yang ada di sekolah tersebut.

Ternyata Tuhan tidak diam. Sekolahan tersebut masih butuh guru IPA, sesuai dengan ijazahku. Sehari setelah kuurus R 10 di sekolah yang kutuju, aku ke Yogya, ke sekolahanku. Teman- teman menyambut kedatanganku dengan gembira, mereka  membantuku untuk mengurus kepindahanku, terutama pak Yanto.

Dari sekolahan aku menuju ke Kanwil Yogyakarta untuk segera mengurus kepindahanku. Dan ternyata semua diberi kelancaran dan kemudahan. Dalam mengurus   kepindahanku di Yogya ternyata banyak yang membantuku.

Setelah urusan di Yogya selesai, gantian aku mengurus berkas kepindahan di Semarang. Di Kanwil Semarang ternyata juga diberi kemudahan. Aku dibantu saudara yang kerja di Kanwil. Dan karena kepindahanku antar provinsi maka ngurusnya harus sampai Jakarta. Aku minta tolong saudaraku untuk mengurusnya. Aku pasrahkan padanya karena dia lebih tahu prosedurnya.

Penantianku ternyata tidak sia- sia. Keinginanku untuk pindah mengajar di sekolah yang dekat dengan rumahku supaya bisa berkumpul dengan anakku yang besar dan suamiku, yang sudah kuharapkan sejak bapak meninggal 3 tahun lalu, hari ini dikabulkan. Hari ini Allah tahu, ternyata tidak membiarkan hambaNya murung terus menerus. Akhirnya cahaya itu datang, mimpi itu nyata. Mukjizat itu ada.

—————————–

Pagi yang cerah, tapi tidak secerah hatiku.Hari itu hari perpisahanku di sekolah yang banyak membuat kenangan.Perpisahan dengan murid- murid dan teman- teman sejawat sangat mengharukan. Sebenarnya aku sudah kerasan mengajar di tempat ini tapi apa daya keluargaku yang lebih penting. Aku ingin segera kumpul dengan keluargaku di Semarang. Tangis airmata sedih dan bahagia menyelimutiku. Dengan perpisahan sederhana aku diantar suamiku untuk berpamitan.

Kita hanya berpisah tempat tapi hati kita semoga tetap menyatu. Bila kelak waktu berpihak tentu kita pasti bertemu lagi. Itu pesanku pada mereka orang orang baik yang mengasihiku…

Kukemas barang- barang di sekolahan lamaku, akan kubawa ke sekolahan baruku. Dengan bantuan teman- teman yang dengan penuh setia selalu menemaniku. Ternyata aku tidak sendiri, teman-temanku terus menghibur dan mensuport aku. Terimakasih teman- teman seperjuanganku.

Kupandangi gedung sekolahku untuk terakhir kali. Dengan diantar derai air mata ku pergi meninggalkan sekolahku tempatku mengajar pertama kali, yang selalu menemaniku dalam suka maupun duka. Kuukir sejarah perjuanganku dari awal sekolah ini berdiri sampai kini aku akan pergi, sudah banyak kemajuan yang berarti.

Rasanya berat meninggalkan teman- teman, dan murid- muridku yang begitu akrab. Tapi aku harus tetap pergi untuk menggapai mimpiku. Anak dan keluargaku sudah menungguku di Semarang.

——————–

Akhirnya kebahagiaan kumpul bersama itu datang juga. Di sekolah yg baru, kebetulan aku alumni dari sekolahan itu juga. Dan guruku dulu sekarang menjadi temanku. Meski sudah banyak berubah, sewaktu aku sekolah dulu tapi keakraban antara kami masih tetap terjalin.

Kekhawatiranku kalau nanti aku harus menyesuaikan dengan sekolah baru ternyata sirna. Aku diterima dengan tulus ikhlas. Ternyata di sekolah baru ini suasana sangat akrab, tidak pandang ku warga baru apa bukan, mereka menerimaku dengan senang. Apalagi bapak ibu guru yang dulu pernah mengajarku. Beliau masih mengenalku. Malah beliau memperkenalkanku dengan teman- teman lain yang baru kukenal.

Sewaktu SMA, aku termasuk anak yang lumayan, selalu 3 besar di kelas, dan aku juga ikut OSIS yang aktif sehingga banyak yang mengenalku. Dari masa SMA ku ternyata ada kebanggan tersendiri dalam diriku. Aku disambut dengan senang hati untuk menjadi guru di sekolahanku semasa SMA ku.

“Ini teman baru kita tapi wajah lama, produk lama”, kelakar pak Wigyo humas SMA ku yang baru, memperkenalkanku pada teman- teman guru.

Aku  tersenyum malu-malu kucing.

Setelah memperkenalkan diri dan ku diterima sebagai guru di SMA Semarang, kulanjutkan langkahku untuk menata hari esok di SMA ini, menjadi pendidik dan menularkan ilmu untuk anak – anak bangsa.

Akhirnya ku tapaki hari – hariku yang baru di sekolah ini dengan rasa riang gembira. Apalagi sekarang ku sudah dipersatukan dengan keluarga, berkumpul dengan suami dan anakku Khaila.

Ah, biarlah harapan mekar

di tersisa sekian

jengkal waktu lagi

Sebelum matahari berpendar

memeluk malam,

mari kita menapak setapak lagi,

sedikit sulit secara bahagia

*) Penulis Guru Mapel Fisika SMAN 1 Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *