Talkshow Fomo Style: Tren, Budaya, dan Jati Diri

Peristiwa254 Dilihat

SURAKARTA, wartaintegritas.com – Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, bersama GRAj. Ancillasura Marina Sudjiwo (Pengageng Kawedanan Panti Budaya di Puro Mangkunegaran) yang  akrab disapa Gusti Sura, tampil sebagai narasumber dalam talkshow bertema “FOMO Style” di Solo Paragon Mall. Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian acara Warga Fest, yang digelar dalam rangka peringatan 121 tahun Yayasan Pendidikan Warga. Ratusan pelajar dari berbagai sekolah di Solo Raya antusias mengikuti acara yang mengangkat fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di kalangan generasi muda, Sabtu 1/11/2025.

Dalam paparannya, Astrid Widayani menyoroti bahwa setiap generasi memiliki tantangan dan gaya hidup yang berbeda, termasuk dalam menghadapi tren digital dan sosial. Ia menekankan pentingnya perencanaan hidup dan pernikahan yang matang, serta membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) dalam mengikuti gaya hidup modern.

“FOMO itu wajar, tapi jangan sampai kita kehilangan arah. Pemerintah berupaya agar masyarakat tetap sehat — baik secara fisik maupun mental,” ujar Astrid.

Ia menjelaskan berbagai program sinergi Pemkot Surakarta, di antaranya Posyandu Plus yang tidak hanya menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan, tetapi juga konsultasi psikologis dan literasi digital. Pemerintah Kota Surakarta juga menggencarkan Program Provinsi Kartu Zilenial untuk memberikan akses internet gratis di titik-titik publik serta pelatihan keterampilan digital dan wirausaha bagi generasi muda.

Lebih lanjut, Astrid menandaskan peran penting sekolah dan komunitas dalam membangun lingkungan yang suportif.

Purwoto Mewawancarai Astrid Widayani, Wakil Wali Kota Surakarta (Foto: Ali Alnada)

“Sekolah bukan sekadar tempat transfer pengetahuan, tapi harus menjadi kolaborator untuk menciptakan nuansa akademik yang sehat dan penuh dukungan,” tuturnya.

Ia menambahkan, anak-anak yang berkarakter, berbudaya, dan berprestasi hanya dapat tumbuh dalam lingkungan yang harmonis antara pemerintah, sekolah, dan keluarga. Ia juga mengingatkan pentingnya menghormati tradisi dan adat budaya di lingkungan keraton, termasuk mengembangkan experience tourism yang berbasis budaya lokal.

Pesannya ditutup dengan refleksi spiritual:

“Sadari keunikan diri kita sebagai ciptaan Tuhan. Maksimalkan potensi, dan gunakan kekurangan untuk mawas diri.”

Sementara itu, Gusti Sura dari Pura Mangkunegaran menegaskan bahwa FOMO tidak selalu berdampak negatif jika disikapi dengan bijak.

“FOMO positif silakan, asalkan tidak membuat kita kehilangan jati diri. Prinsip kami, maju tanpa meninggalkan budaya lama,” tandasnya.

Ia mengingatkan pentingnya filosofi “eling lan waspadha” — sadar dalam memilah dan memilih pengaruh luar, serta tetap ingat pada akar budaya serta nilai yang diajarkan orang tua. Menurutnya, peran keluarga lebih besar daripada sekolah dalam mengarahkan anak agar tidak terjebak dalam tren yang berlebihan.

Sebagai bentuk nyata pelestarian budaya, Gusti Sura juga memperkenalkan program “Mangkunegaran Bermain ke Sekolah”, yakni sosialisasi budaya tradisional kepada siswa dengan pendekatan interaktif dan kekinian.

“Butuh waktu untuk mencintai budaya sendiri. Jangan lupa akar budaya dan norma yang sudah diwariskan,” pesannya menutup sesi diskusi.

Acara talkshow “FOMO Style” ini menjadi momentum penting bagi para pelajar Solo Raya untuk memahami bahwa tren bukan sekadar ikut-ikutan, tetapi ruang untuk mengenal diri, menjaga budaya, dan menumbuhkan karakter unggul di era digital.

(Purwoto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *