Reuni Penuh Haru Eks Staf YBKS: “Love Never Ends” di Usia ke-52

Peristiwa326 Dilihat

Sukoharjo — wartaintegritas.com — 15 April 2026. Suasana haru dan sukacita menyelimuti reuni mantan staf dan karyawan Yayasan Bimbingan Kesejahteraan Sosial (YBKS) yang digelar pada Rabu (15/4) di Rumah Makan Rasa Mirasa, Pabelan, Sukoharjo.

Sebanyak 65 orang yang pernah mengabdi sejak YBKS berdiri pada tahun 1974 hingga kini—yang telah bertransformasi menjadi Center for Development and Culture (CDC)—hadir dalam acara tersebut.

Reuni ini terasa makin istimewa karena dilaksanakan bertepatan dengan hari ulang tahun ke-52 YBKS/CDC, yang jatuh pada tanggal 15 April. Momen ini menjadi perayaan perjalanan panjang sebuah lembaga yang telah berkiprah dalam pendampingan sosial lintas dekade di Indonesia.
Mayoritas peserta yang kini telah berusia di atas enam puluh tahun tampak antusias mengikuti acara. Mereka saling bersalaman, berangkulan, dan berbagi cerita tentang kehidupan keluarga, pengalaman pribadi, serta aktivitas yang kini dijalani. Suasana keakraban dan kerinduan yang mendalam terasa kuat sepanjang pertemuan.

Reuni yang mengusung tema “Love Never Ends” ini menjadi simbol bahwa relasi yang terjalin selama masa pengabdian di YBKS tetap hidup dan bermakna hingga hari ini. Beberapa peserta juga diberi kesempatan untuk membagikan kesan dan pengalaman mereka selama berkarya di lembaga tersebut.

Tri Edi Nurani (70), yang akrab disapa Atien, mengenang awal perjalanannya bergabung dengan YBKS pada tahun 1980. Ia mengisahkan bahwa saat itu dirinya telah diterima di sebuah kampus ternama di Surabaya, namun memilih melepas kesempatan tersebut demi bergabung dengan YBKS setelah bertemu dengan Pak Josef.

“Waktu itu Pak Josef menemui saya di rumah. Ia menjelaskan tentang YBKS dan kiprahnya, dan saya tertarik. Dalam hati saya, pekerjaan seperti ini yang saya inginkan,” tuturnya.

Dalam perjalanannya, Atien kemudian memulai pelayanan bantuan hukum bagi masyarakat sebagai wujud komitmen memperjuangkan keadilan bagi kelompok kecil.
Ia juga membagikan pengalaman yang tidak mudah selama menjalankan pelayanan tersebut.

“Dulu dalam pelayanan saya memberikan bantuan hukum pada masyarakat kecil, sering bertemu dengan aparat keamanan. Saya perempuan sendiri berhadapan dengan aparat keamanan yang hampir semuanya laki-laki. Mungkin karena mereka gemas melihat saya perempuan yang berani melakukan pembelaan, mereka itu kalau menyalami saya sambil meremas dengan keras tangan saya sampai terasa sakit,” kenangnya.

Kiprah YBKS sendiri dikenal luas melalui pendampingannya terhadap warga masyarakat yang mengalami penggusuran akibat kebijakan pembangunan Waduk Kedung Ombo pada masa rezim Orde Baru. Keberpihakan terhadap masyarakat kecil menjadi ciri khas pelayanan lembaga ini.

Hal tersebut ditegaskan oleh Josef Purnama Widyatmadja (83), seorang pendeta sekaligus salah satu pendiri YBKS, dalam sambutannya. Ia menyebut bahwa program-program YBKS sejak awal memang diarahkan untuk mendampingi “wong cilik”.

“Karena dekat dengan rakyat kecil maka YBKS sering disebut sebagai Yayasan Barisan Kristen Sosialis,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Josef juga memperkenalkan dua pendeta yang diharapkan dapat menjadi kader penerus perjuangan YBKS, baik secara pemikiran maupun praksis. Keduanya adalah Rudiyanto (51), yang diperkenalkan sebagai pendeta dengan kepakaran dalam gerakan sosialis Marxis, serta Iwan Firman Widiyanto (46), yang diutus untuk meneliti karya dan perjalanan YBKS sejak tahun 1974 hingga sekarang dalam studi doktoral Sosiologi Agama di Universitas Kristen Satya Wacana.

Pelayanan YBKS juga dikenal sebagai Urban Rural Mission, yakni pelayanan yang menjembatani kehidupan desa dan kota. Pelayanan ini dijiwai oleh spiritualitas kristiani yang berorientasi pada perubahan kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Meski didirikan oleh gereja, misi YBKS tidak dimaksudkan untuk mengkristenkan orang, melainkan untuk mewujudkan nilai-nilai perdamaian, keadilan, dan keutuhan ciptaan. Dalam pelaksanaannya, YBKS menjalin kerja sama lintas agama dan melayani masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama, suku, maupun golongan.

Sri Ciptaningsih (75), yang mulai mengabdi sejak tahun 1980, membagikan kisah pengabdiannya sebagai pelayan pedesaan. Ia aktif keluar-masuk desa untuk melakukan penyuluhan masyarakat di bidang kesehatan dan pendidikan.

Dalam salah satu pengalamannya, ia pernah mendampingi sebuah desa yang sebagian masyarakatnya—khususnya perempuan—bekerja sebagai pekerja seks komersial, dengan pendekatan kemanusiaan dan pemberdayaan.

Selain itu, Sri Ciptaningsih juga mendirikan banyak Taman Kanak-Kanak (TK) di berbagai desa, dan banyak di antaranya masih berdiri hingga sekarang. Ia menegaskan bahwa pelayanannya tidak dibatasi oleh identitas keagamaan.
“Teman saya bertanya kepada saya, mengapa TK-nya tidak diberi nama Kristen. Lalu saya menjawab bahwa saya ini pelayan untuk seluruh umat,” kenangnya.
Sementara itu, Noorhadi (80), yang dahulu bertugas sebagai staf lapangan di bidang penyuluhan pertanian, menyampaikan harapannya agar nilai dan program YBKS tetap berlanjut di masa depan.
“YBKS mempunyai program-program yang baik, sehingga sebaiknya ada kader atau generasi yang dapat meneruskannya,” ujarnya.

Reuni ini bukan sekadar ajang temu kangen, tetapi juga menjadi refleksi atas perjalanan panjang pengabdian yang telah membentuk nilai, panggilan hidup, dan persaudaraan di antara para mantan staf. Sebagaimana tema yang diusung, cinta dan kebersamaan yang pernah ditanamkan di YBKS terus hidup dan mengakar dalam perjalanan hidup mereka—love never ends.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *