RA Kartini Pernah Terobsesi Ingin Tinggal di Kampung Nasrani?

Opini105 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki *)

Hanung Bramantyo, sutradara film Kartini yang release tahun 2017, saat mempersiapkan film tersebut, pergi ke Jepara dan berkunjung ke gereja kami, setelah bertanya ini itu, lalu bertanya kepada saya,”Apakah Kartini dulu mempunyai guru rohani dari gereja ini?”  Saya jawab, bahwa saya tidak tahu akan hal itu.  Saya sampaikan yang saya tahu adalah informasi bahwa Kartini remaja pernah datang ke gedung gereja kami menemani ayahandanya Bupati Jepara R.M. Adipati Sosroningrat pada waktu gereja punya acara peresmian gereja kami dan kemungkinan besar sekaligus acara penahbisan pendeta Johan Hubbert sebagai pendeta di gereja Kedungpenjalin.

Sementara ini, satu-satunya sumber yang saya dapatkan yang menyatakan bahwa Kartini remaja pernah datang ke gereja kami adalah dari buku: Panggil Aku Kartini Saja karangan Pramoedya Ananta Toer.  Dikisahkan dari buku itu, setelah Kartini bebas dari pingitan, maka Kartini diajak ayahandanya dengan naik kereta pergi ke Kedungpenjalin untuk menghadiri sebuah acara gereja.  Pramoedya Ananta Toer menulis cukup rinci akan hal ini:

“Hari masih pagi waktu itu, dan itulah pagi ‘untuk pertama kali setelah meninggalkan sekolah, aku melihat kembali dunia luar’.  Kartini dan  adik-adiknya yang juga dibebaskan menjalani upacara pembebasannya secara agak aneh, sekalipun lebih bersifat kebetulan.  Dengan berkereta mereka pergi ke Kedungpenjalin, menghadiri pentahbisan sebuah gereja baru!  Itulah pula buat pertama kali Kartini menghadiri kebaktian Nasrani, ‘dan segala yang kami lihat dan dengar di sana, meninggalkan kesan dalam pada kami’.  Rupa-rupanya asosiasi antara pembebasan dan pentahbisan gereja itu sangat kuatnya.  Karena peristiwa yang sudah lama terjadi itu di kemudian hari masih juga segar-bugar di dalam ingatannya.  Dan asosiasi ini di kemudian hari pun menyebabkan Kartini dengan tulusnya dapat menghargai agama Nasrani.” (h. 77)

Dalam buku: Kartini, Sebuah Biografi, karangan Sitisoemandari Soeroto, disebutkan tentang pertemuan Kartini saat berkunjung ke Batavia bersama keluarganya dengan Dr. Adriani perlu ditambahkan di sini.  Oleh Nyonya Abendanon, keluarga Kartini diperkenalkan dengan Dr. Andriani, pendeta Kristen dan ahli bahasa yang termasyhur, yang bertahun-tahun bekerja di tengah suku bangsa Toraja di Sulawesi Selatan yang pada waktu itu sedang mengadakan perjalanan keliling Jawa dan Sumatera.  Dr. Adriani, diundang khusus oleh Nyonya Abendanon makan malam bersama tamu-tamunya dari Japara itu. (h. 225)

Dr. Adrian menulis kepada Nyonya Nellie van Kol, bahwa pertemuannya yang hanya semalam itu, membuatnya seketika tertarik kepada mereka.    Kepada istrinya, Dr. Adriani menulis bahwa ia “senang sekali dapat bertemu bercakap-cakap secara bebas dan terbuka dengan seorang wanita Jawa yang sama sekali tidak canggung sikapnya.  Dr. Adriani diundang untuk berkunjung ke Jepara, namun Dr. Adriani tidak bisa memenuhi undangan tersebut, karena ia harus segera kembali ke Sulawesi Tengah.  Dari Sulawesi, Dr. Andriani disebut mengirimkan beberapa karangan dan sempat terjadi korespondensi atau surat menyurat dengan Kartini. (h. 226).

Apakah kedua peristiwa, yakni saat Kartini berkunjung ke gereja Kedungpenjalin, kemudian ada kelanjutan komunikasi antara Pendeta Johan Hubbert dengan Kartini atau keluarga  belum diketahui.  Demikian pula  pertemuan Kartini yang berlanjut pada korespondensi  antara  Kartini dengan Dr. Adriani, sehingga apakah ada percakapan bersifat rohani di antara mereka, belum ada tulisan khusus juga yang mengupas hal itu.

Namun yang jelas, bahwa penghargaan Kartini terhadap kaum Nasrani luar biasa.  Hal ini bisa dilihat keinginan Kartini saat kecewa dan stres berat karena keinginannya menjadi pembantu majalah Belang en Recht (Kepentingan dan Hak) terbitan Netherland, ditolak ayahandanya.  Padahal saat itu, dia sudah masyhur sebagai seorang pengarang yang mulai diperhitungkan.  Dalam kondisi penuh dengan kekecewaan itu, Kartini bertekat melarikan diri ke komunitas Kristen Protestan yang ada di Mojowarno Jawa Timur.  Pada saat itu memang kekristenan mulai berkembang di Mojowarno dan ada seorang missi dari Belanda di sana yang bernama Jelle Eeltje Jellesma.

Pramoedya Ananta Toer mencatat percakapan lewat surat antara Kartini dengan sahabatnya, seorang keturanan Yahudi-Belanda yang bernama Estelle Zeehandelaar.  Kata Kartini: “Benarkah kau menganggap Mojowarno mengerikan?  Coba, apakah yang lebih baik, menjadi gila di rumah ini, ataukah mencari pengobatan bagi luka-luka jiwa kami dengan suasana cinta-sesama?  Ke sana jugalah perginya kalau keinginan-keinginan kami tak bisa dipuaskan, jadi tidak lebih lama lagi kami terkungkung, terkurung oleh kekerdilan-kekerdilan dari kedangkalan-kedangkalan jiwa.  Kami  pada dasarnya orang yang bersemangat untuk menyesuaikan diri dalam suasana yang kami jijiki dan muak dengan hati dan jiwa kami.  Bukan musuh dari luar yang melumpuhkan kami, itu kami tiada takut barang sedikitpun; tapi yang dari sini dari dalam sini yang menggerumit di dalam jiwa, hati, dan otak kami.” (212)

Selanjutnya kata Kartini yang mencerminkan hatinya yang galau dahsyat: “Ayoh , katakanlah kau tiada kecewa, putus asa, berduka cita, sekiranya menerima surat-surat dari aku, dan untuk seterusnya, menulis surat-surat kepadaku dengan alamat Mojowarno.  Ayolah, Stella, berilah hiburan itu. Ayoh, relakanlah aku…kami yakin bahwa lingkungan yang mulia, suci dan cinta sesama dengan melupakan diri sendiri itu akan menyembuhkan luka-luka hati dan luka-luka jiwa kami, dan akan mencucikan diri kami.  Bahwa kami akan datang ke sana dengan hati robek-robek dan jiwa luka parah, tiada kan dapat diragukan lagi, tapi Mojowarno sama sekali tiada bersalah tentang hal ini…” (h. 213)

Guru Rohani?

Pertanyaan yang sama,”Siapa guru rohani Kristen bagi Kartini, apakah ada?” kemudian tidak saja muncul dari Hanung Bramantyo, tetapi dari wartawan koran Tempo, sesudahnya kepada saya.  Tahun 2021 yang lalu, seorang wartawan Jawa Pos Radar Kudus, menjelang hari Kartini juga menelpon dengan pertanyaan yang mengarah kepada hal itu.

Terhadap pertanyaan itu, sebagaimana yang saya tuliskan di atas, saya tidak tahu.  Tetapi jika pertanyaan mengarah ke bidang lebih khusus, bagaimana Kartini berpikir soal ketuhanan?  Mungkin jawabannya akan lebih spesifik.  Pramoedya Ananta Toer menulis, bahwa Kartini adalah seorang yang religius, tanpa berpegang pada bentuk-bentuk keibadahan ataupun syariat, jadi ia termasuk dalam golongan javanis Jawa, atau golongan kebatinan, di mana Tuhan dipahami sebagai sumber hidup, yang mengikat setiap orang dengan-Nya, tak peduli apapun agama yang dianut, bahkan juga bagi ateis sekalipun, sebagaimana jelasnya dinyatakannya dalam hubungan dengan buku Edna Lyall We Two.  Ia juga dapat menerima agama apa pun, dan ia tidak dapat menerima pemutarbalikan atas agama apa pun, sebagaimana pernyataannya terkait dengan buku Sienkiewicz Quo Vadis? (h. 260-261).

Yang jelas memang Kartini memiliki rekan-rekan Eropa yang seringkali berkorespondensi dengannya.  Sedikit banyak memang hal ini mempengaruhi cara berpkirnya tentang manusia, Tuhan dan lain-lain.  Selain itu, dia juga mengadakan interaksi juga dengan bangsanya Jawa yang membuatnya sangat menghargai budaya Jawa, termasuk agama Islam yang diwarisinya dari nenek moyangnya.  Menurut buku: Kartini Sebuah Biografi, Kartini mencapai tataran kebatinan seperti orang Jawa waktu itu yang memiliki pendapat: Allah adalah di dalam diri sendiri.  Sehingga ketika seorang orang tua yang melihat kebatinan Kartini seperti itu lalu memberikan Kartini buku-buku kuno yang berbahasa Arab dan Jawa.  Terhadap hal ini, sebagaimana yang ditulis dalam buku, Kartini Sebuah Biografi adalah sebagai berikut: “seorang orang tua di sini memberi kepada kami sekumpulan buku-buku Jawa kuno, di antaranya ada yang ditulis dengan huruf Arab. Mungkin kau tahu bahwa buku-buku Jawa itu sangat susah mendapatnya, karena ditulis dengan tangan.  Hanya beberapa yang dicetak.  Kami sekarang sedang membaca sebuah syair yang bagus, yang mengandung petuah-petuah bijaksana, ditulis dalam ‘bahasa kembang.’…” (h. 112)

*) Penulis setelah purna pelayanan di GITJ Kedung Penjalin Jepara, saat ini tinggal di Ambarawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *