Oleh: Suyito Basuki *)
Menyimak sejarah lahir dan bertumbuhnya Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Tukrejo kita kembali terpana adanya pengulangan sejarah penyataan kuasa Allah. Dengan kuasa-Nya Allah bisa memakai siapa pun juga, meski mereka adalah orang-orang yang sangat sederhana.
Lahirnya GITJ Tukrejo dimulai dengan hal yang sederhana, yakni pelayanan anak-anak Sekolah Minggu. Dikisahkan dalam buku yang berjudul Tapak-Tapak Kecil yang Bertumbuh ini bahwa anak-anak tersebut sebelumnya mengikuti kegiatan Sekolah Minggu GITJ Puring. Karena musim penghujan, jalanan sulit dilalui, maka mereka tidak bisa melakukan ibadah sekolah minggu di GITJ Puring. Kemudian timbulah inisiatif untuk melayani anak-anak itu di rumah Bapak Trisno dan dilayani oleh Guru Injil Sumono. Anak-anak tersebut adalah: Sri Ngatini (anak dari Mbah Suwoto), Sulastri, Jasmirah (anak dari Mbah Mat Ngali), Turipah, Juwadi, Parman, dan Giyono.
Setelah Guru Injil Sumono menyerahkan pelayanan anak Sekolah Minggu ke GITJ Bondo di tahun 1964, maka GITJ Bondo mengutus Bu Sumari yang ayahnya pernah menjadi majelis di GITJ Margokerto. Ketika pelayanan Sekolah Minggu berkembang, maka guru Sekolah Minggu pun bertambah dengan hadirnya Bu Wuryani putri Bapak Mardi.
Membangun Kandang Bebek?
Dalam perkembangannya, sebagai mana yang ditulis dalam buku oleh Tim Penulis yang terdiri dari: Pdt. Em. Subandrio, S.Th., Pdt. Agung Sampurno, S.Th., Suprayanto, S.Pdk. dan Yulianto, S.Th. bahwa pelayanan yang dimulai dengan sesuatu yang sederhana berkembang menjadi pelayanan jemaat berupa pepanthan dengan menginduk ke GITJ Bondo.
Dalam perjalanan waktu, tiba-tiba saja ada seseorang yakni Bapak Rusman yang digerakkan Tuhan untuk mempersembahkan tanahnya untuk bangunan gereja. Pada saat mereka membangun gereja, mereka diejek oleh masyarakat, seolah mereka hanya membuat sebuah kandang bebek mungkin karena mereka melihat bentuk bangunan dibuat kotak ukuran 6 x 15 meter atau entah apa alasan mereka mengejek seperti itu. Tetapi justru ejekan itu membuat warga GITJ Tukrejo saat itu malah bersatu padu dalam bahasa Jawanya “nyawiji manunggal, sengkut gumregut”.

Pembangunan gedung gereja dimulai tanggal 11 Juli 1965 selesai tanggal 16 Juni 1966. Pada tanggal 25 Desember tahun 1966 gedung gereja yang baru berdiri digunakan untuk perayaan ibadah Natal. Selanjutnya pada tanggal 1 Januari tahun 1967 orang-orang Kristen di Dukuh Tukrejo tidak lagi beribadah di GITJ Bondo, karena telah memiliki tempat ibadah sendiri dan pada tanggal 1 Januari tahun 1967 mereka melaksanakan ibadah pertama di gereja yang telah berdiri.
Renovasi Pembangunan
Renovasi demi renovasi bangunan gedung gereja yang masih semi permanen terus dilakukan. Renovasi total dilakukan dan di tahun 2025 ini bangunan gereja yang lebih indah dan ukuran gedung yang lebih luas mulai digunakan. Pertambahan jemaat secara kuantitas dan pertumbuhan jemaat secara kualitas dari tahun ke tahun terus terjadi. Semoga tahun-tahun ke depan pertumbuhan tersebut terus berlanjut.
Di awal dimulainya pelayanan, tidak akan ada seorang pun yang menyangka bahwa perkembangan pelayanan GITJ Tukrejo menjadi pesat dan indah seperti disaksikan saat sekarang ini. Bermula dari anak-anak Sekolah Minggu yang sederhana, Allah berkenan memakai sebagai alat bagi lahir, tumbuh, dan berkembangnya GITJ Tukrejo yang memiliki visi Pandan Waringin. Visi gereja sebagai Pandan Waringin ini dicetuskan oleh Bapak Mardi dengan tujuan gereja hendaknya menjadi tempat berkumpul dan bernaungnya umat kepunyaan Allah di Tukrejo dan sekitarnya.
Penulisan Lanjutan
Buku yang diterbitkan oleh GITJ Tukrejo Desember 2025 yang lalu dan yang wujudnya masih sederhana serta perlu penyempurnaan ini, dari segi isi sangat bernilai. “Buku ini kami harapkan menjadi catatan sejarah, khususnya bagi generasi muda gereja kami. Bahwa betapa kesulitan pernah dialami oleh para pendiri gereja kami. Semoga menjadi inspirasi bagi generasi yang akan mengembangkan gereja kami selanjutnya,” ujar Pdt. Agung Sampurno salah seorang penulis buku ini.

Selain itu juga, buku ini menjawab pertanyaan warga gereja kami, kapan pelayanan dimulai dan kapan bangunan gereja didirikan, sehingga bisa menjadi dasar peringatan hari ulang tahun gereja kami,” demikian jelas Pdt. Agung Sampurno dengan harapan masih ada buku tulisan sejarah gereja lanjutan yang berkisah sejak ia ditahbiskan sampai masa kini.
Ketua Majelis gereja Dwi Sampurno dalam pengantar buku ini menyampaikan bahwa penulisan sejarah gereja ini patut disyukuri. “Ini menentukan titik awal berdiri gereja untuk dipedomani sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan yang telah memilih kami dan memelihara umat-Nya dengan penuh kasih yang dirasakan sampai saat ini,” ungkap Dwi Sampurno.
*) Penulis adalah editor buku sejarah “Tapak-Tapak Kecil yang Bertumbuh” GITJ Tukrejo Jepara, tinggal di Ambarawa










