Oleh: Suyito Basuki *)
Seorang kritikus sastra, Dami N. Toda dalam pembahasan terhadap novel karya Iwan Simatupang menyatakan bahwa alur dalam novel-novel Iwan Simatupang (dalam hal ini Ziarah) adalah “anti alur”, artinya alur tanpa diduga-duga, kapan-kapan dapat terjadi apa saja, karena tokohnya adalah bukan tokoh tunggal. (Dami N. Toda, Novel Baru Iwan Simatupang, Jakarta: Pustaka Jaya, 1980, hal. 55)
Memang benar, dengan bebas sekali Iwan Simatupang sastrawan Angkatan Sastrawan 66 memulai nomor babnya dalam novel Ziarah dengan kehidupan tokoh-tokohnya, yang semula menurut pemikiran pembaca justru tidak ada hubungannya. Tokoh-tokoh pelukis, opseter, walikota, dan istri pelukis, mendapat proporsi yang seolah-olah sama. Novel Ziarah yang diterbitkan NV Djambatan 1969 ini bertemakan “kegelandangan”. Kegelandangan tokoh pelukis di sini memiliki pengertian kegelandangan material dan spiritual.
Dengan bebas pula, Iwan Simatupang membolak-balikkan cerita dengan alur atau plot flash back. Setelah pada bab-bab awal diceritakan kematian istri pelukis, pada bab lima dan selanjutnya diceritakan pengarang tentang kehidupan awal istri pelukis dan pelukis.
Meski di dalam bab dua walikota dikisahkan mati setelah memberikan surat pemberhentian kepada opseter, di dalam bab empat kembali dikisahkan kehidupan walikota yang seolah-oleh sebelumnya belum mengalami kematian.
Sebagai latar belakang cerita novel Ziarah ini adalah kuburan dengan segala pernak-perniknya. Dengan mengeksploitasi latar belakang cerita semacam ini, maka terlihat keunikan Iwan Simatupang dalam usahanya menemukan orisinalitas karangan.
Tentang detail-detail kota tidak dijelaskan. Hanya pembaca dapat menginterpretasikan kemungkinan, bahwa latar belakang tempat cerita adalah sebuah kota kecil atau sebuah daerah kotamadya. Ini dapat dilihat dari tempat tinggal pelukis yang dikatakan rumah kecil di pinggir kota kecil dan adanya walikota dalam cerita.
Iwan Simatupang mengakui bahwa novel yang ia tulis adalah novel esai. (Ziarah, hal. 90) Sebagai novel esai, maka ia ingin menjadikan novelnya sebagai esai tempat dia menguraikan pokok-pokok pikirannya yang filsafati.
Berdasarkan komitmen ini, maka soal cara Iwan Simatupang memilih-milih kalimat ungkapan serasa tidaklah merupakan beban yang berat. Pokok utamanya adalah bagaimana buah pikirnya dapat dituliskannya.
Maka pernyataan tajam yang diungkapkan Arief Budiman sehubungan dengan ini: “Barangkali ada kekecualian untuk novelis Indonesia, dari Iwan Simatupang yang punya pemikiran jauh sekali dibanding dengan novelis-novelis Indonesia yang kita sebutkan. Tapi kesulitan Iwan menurut saya, dia terlalu genit, terlalu bombas dengan ide-idenya. Dia menurut saya bukan pengarang. Dia lebih seorang esais atau kritikus. Sebenarnya dia tidak pantas menulis novel, dia lebih pantas menulis esai atau kritik.” (Kurnia JR, “Tanggapan Pembaca atas Novel Iwan Simatupang dalam Dua Dasa warsa 1968-1988” Jakarta: Horison, no. 5 Th. XXIII, 1989, hal. 150).
Namun ada juga pernyataan HB Yasin yang terkenal dengan sebutan Paus Sastra Indonesia tentang Iwan Simatupang dalam resensi pendeknya 26/6/ 1963: “Sebagaimana orang pernah harus punya waktu untuk mengerti puisi Chairil Anwar, demikian juga orang akan menunggu waktu, baru dapat menghargai prosa Iwan sepenuhnya. Cerita ini yang baru sama sekali dalam bahasa, dalam pengungkapan, dalam mendekati hidup dan permasalahan, merupakan halaman baru dalam kesusastraan Indonesia.” (Dami N. Toda, Novel Baru Iwan Simatupang, Jakarta: Pustaka Jaya, 1980, hal. 47).
*) Penulis tinggal di Ambarawa




