SURAKARTA — wartaintegritas.com – Akademi Keperawatan (Akper) Patria Husada Surakarta menggelar Wisuda XL (ke-40) dan Pengambilan Sumpah Profesi Ahli Madya Keperawatan pada Kamis, 20 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung di Aula Cendekia Nusantara, Jalan Gunung Slamet, Mojosongo, Surakarta, dengan dihadiri jajaran yayasan, direksi akademi, rohaniwan, organisasi profesi, rumah sakit mitra, alumni, orang tua wisudawan, dan tamu undangan.
Wisuda XL menjadi momentum penting bukan hanya sebagai penanda keberhasilan para mahasiswa menyelesaikan pendidikan, tetapi juga sebagai titik awal memasuki dunia profesional. Para lulusan diharapkan mampu mengimplementasikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama pendidikan dengan menjunjung tinggi profesionalisme, integritas, etika, serta nilai-nilai kemanusiaan dalam pelayanan keperawatan.
Pengambilan Sumpah Profesi
Salah satu bagian penting dalam Wisuda XL adalah pengambilan sumpah profesi dan pelantikan lulusan. Para perwakilan wisudawan dari agama Islam, Kristen, dan Katolik mengikuti prosesi sumpah dengan didampingi rohaniwan. Pengambilan sumpah dipimpin oleh Direktur Akper Patria Husada Surakarta.
Prosesi tersebut menegaskan bahwa kelulusan akademik harus diikuti dengan komitmen moral dan profesional dalam menjalankan tugas sebagai tenaga keperawatan. Penandatanganan naskah sumpah dilakukan oleh para perwakilan wisudawan dengan Ketua DPD PPNI Kota Surakarta sebagai saksi.
Wisudawan Terbaik
Pada kesempatan tersebut juga diberikan penghargaan kepada wisudawan berprestasi. Novita Dwiyanti, A.Md.Kep. meraih penghargaan sebagai peraih IPK terbaik dengan IPK 3,81, sedangkan Elva Florentina, A.Md.Kep. meraih penghargaan OSCE(Objective Structures Clinical Examination) terbaik.
Penghargaan diberikan dalam bentuk penyematan selempang, sertifikat, dan kenang-kenangan. Para penerima penghargaan juga mendapatkan ucapan selamat dan foto bersama pimpinan yayasan, direktur akademi, dan donatur pendidikan.

Kelvin Gonata: Komitmen Mengantar Transformasi Menjadi STIKES
Dalam sambutannya, Donatur Pendidikan, Kelvin Gonata dari Mitracomm Eka Sarana (Jakarta), menyampaikan komitmen untuk mendukung transformasi Akper Patria Husada Surakarta menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES).
Komitmen tersebut tidak hanya diarahkan pada proses perubahan bentuk kelembagaan, tetapi juga pada upaya untuk terus mengembangkan STIKES setelah transformasi berlangsung. Pengembangan institusi diharapkan semakin memperkuat kualitas pendidikan, memperluas kapasitas akademik, serta menghasilkan lulusan tenaga kesehatan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Komitmen dukungan pendidikan tersebut juga menjadi bagian penting dalam perjalanan Akper Patria Husada untuk terus bertumbuh dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan keperawatan.
Dr. Alfred Boediman: Perawat Tidak Tergantikan AI
Sementara itu, Pembina Yayasan Nathara, Dr. Alfred Boediman, memberikan penekanan mengenai masa depan profesi perawat di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menurutnya, perawat tidak akan tergantikan oleh AI karena dalam pelayanan kesehatan terdapat dimensi kemanusiaan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan teknologi.
“Perawat tidak akan tergantikan oleh AI karena manusia masih memiliki rasa sakit dan rasa takut.”
Pesan tersebut menegaskan bahwa teknologi memang akan semakin berkembang dan menjadi bagian dari dunia kesehatan, tetapi kehadiran manusia dalam memberikan empati, kepedulian, rasa aman, serta pendampingan kepada pasien tetap memiliki peran yang sangat penting.
Namun demikian, Dr. Alfred mengingatkan bahwa para lulusan akan menghadapi tantangan yang jauh lebih luas. Karena itu, lulusan tidak boleh berhenti pada kompetensi yang diperoleh selama pendidikan, tetapi harus terus mengembangkan diri dan menambah keterampilan, khususnya keterampilan yang berkaitan dengan teknologi.
Dengan demikian, teknologi bukan dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kemampuan baru yang perlu dikuasai oleh tenaga kesehatan agar dapat bekerja secara lebih efektif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Suminanto: Tingkatkan Keterampilan, Jaga Integritas, Layani dengan Hati
Pesan penting juga disampaikan Ketua DPD PPNI Kota Surakarta, Suminanto, S.Kep., Ns., M.Si. Ia mengingatkan para lulusan bahwa tantangan profesi keperawatan ke depan akan semakin luas dan kompleks.
Karena itu, ia menyampaikan tiga pesan utama kepada para wisudawan.

Pertama, meningkatkan keterampilan dan terus belajar. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan pelayanan kesehatan menuntut seorang perawat untuk terus meningkatkan kompetensi. Kelulusan bukan akhir dari proses belajar, melainkan awal dari perjalanan pembelajaran sepanjang hayat.
Kedua, menjaga integritas. Kompetensi harus disertai dengan kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, dan komitmen terhadap etika profesi. Integritas menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan pasien, keluarga, institusi, dan masyarakat.
Ketiga, melayani dengan hati. Keperawatan bukan sekadar pekerjaan teknis, tetapi profesi yang berhadapan langsung dengan manusia dalam kondisi membutuhkan pertolongan. Karena itu, pelayanan harus dilakukan dengan empati, kepedulian, kesabaran, dan penghargaan terhadap martabat setiap pasien.
Dari Kampus Menuju Dunia Profesional
Selain prosesi akademik, Wisuda XL juga diwarnai dengan berbagai persembahan dari mahasiswa dan wisudawan, termasuk seni bela diri serta paduan suara mahasiswa. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan simbolis para wisudawan kepada Ikatan Alumni Patria Husada Surakarta (IKAPH), sebagai tanda bergabungnya para lulusan dalam keluarga besar alumni.
Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah. Dalam penutupan, para lulusan didorong untuk menjadikan ilmu yang telah diperoleh sebagai bekal dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat serta menjadi tenaga kesehatan yang profesional, berintegritas, dan menjunjung tinggi etika profesi.
Wisuda XL Akper Patria Husada Surakarta akhirnya bukan sekadar seremoni akademik. Momentum ini menjadi peneguhan atas tiga hal penting: transformasi institusi menuju STIKES, kesiapan lulusan menghadapi era teknologi, dan penguatan karakter profesi keperawatan yang berintegritas serta humanis.
Ilmu dapat berkembang, teknologi dapat berubah, tetapi nilai kemanusiaan dalam pelayanan keperawatan harus tetap menjadi fondasi.
(Purwoto)










