Senantiasa Bersyukur kepada Tuhan

Kontemplasi594 Dilihat

Oleh: Suyito Basuki

Suatu ketika kita memberi baju baru kepada anak kita.  Dengan susah payah telah kita kumpulkan uang untuk membeli baju baru itu.  Saat anak kita mengucap terima kasih, bagaimana perasaan kita?  Tentu merasa puas bukan?  Apa yang kemudian akan kita lakukan?  Tentu kita akan memikirkan untuk memberi apalagi kepada anak kita tersebut.  Tetapi jika sebaliknya anak yang kita beri baju baru tadi tidak mengucapkan terima kasih, malah menyepelekan kita, apak yang kemudian kita lakukan?  Tentu kita tidak lagi merencanakan memberi sesuatu kepada anak yang tidak tahu berterima kasih itu.

Kehidupan kita sebagai orang percaya yang pertama dan terutama adalah bahwa kita sudah diberi keselamatan oleh Tuhan.  Yesus Kristus telah menderita sengsara dan mati bagi dosa kita.  Itu pemberian yang luar biasa.  1 Petrus 2: 24 “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.”

Selanjutnya Tuhan memberikan pemeliharaan atas hidup kita.  Kita diminta untuk tidak khawatir akan perihal kehidupan kita.  Tuhan memberikan contoh kehidupan burung di udara yang tidak menanam dan tidak menabur, tetapi senantiasa dipelihara oleh Tuhan.  Tuhan juga mencontohkan bunga bakung di ladang yang tidak memintal tetapi diberi keindahan melebihi baju-baju Raja Salomo yang indah.  Matius 6: 25: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?”

Tuhan pun juga tidak pernah meninggalkan kita.  Ibrani 13:5: “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”  Penyertaan Tuhan ini akan membawa kita pada ketenangan hidup karena di mana pun kita berada pimpinan Tuhan itu menjadi nyata dalam kehidupan kita.

Seorang guru agama saya sewaktu SPG, suatu ketika dari Tuntang mau ke Salatiga. Hari sudah senja dan dia berada di tepi jalan melambaikan tangan pada bus yang harapannya berhenti dan mengangkutnya.  Tetapi bus tetap melaju.  Cukup lama kemudian ada bus lain yang kemudian berhenti.  Saat ia naik bus, dia melihat bus yang tadi tidak mau berhenti untuk mengangkutnya mengalami kecelakaan.  Guru agama saya tadi lalu bersyukur, “Andai tadi saya menumpang bus itu, pasti juga akan ikut kecelakaan.”  Kadang kita merasa suatu kali gagal dan kita bertanya kepada Tuhan,”Kenapa saya gagal ya Tuhan?”  Kita tahu bahwa Tuhan menyertai kita, yakinlah bahwa Tuhan ada rencana di balik peristiwa kegagalan kita itu.  Hal terbaik sedang disiapkan Tuhan bagi kita.

Marilah senantiasa kita bersyukur kepada Tuhan.  Pujian kita hendaknya berasal dari hati dan kita ucapkan dengan ketulusan hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *